Wayang, Etika Kuasa, dan Krisis Nurani – Ketika Semar Pergi, Kekuasaan Tinggal Kerangkanya

Oleh : Ki Bismo Pratonggopati - Budayawan

Monwnews.com, Lakon Semar Gugat sebagai kritik budaya atas para ksatria yang mabuk tahta, kehilangan rasa malu, dan menyingkirkan kebijaksanaan

Bismo Pratonggopati - Budayawan
Bismo Pratonggopati – Budayawan

Di dunia wayang Jawa, Semar bukan tokoh utama dalam arti formal, tetapi justru menjadi pusat dalam arti moral. Ia tidak memimpin perang, tidak merebut takhta, tidak memamerkan kesaktian, dan tidak hidup di bawah sorot kemegahan istana. Namun dari sosok yang tampak lugu, tua, bulat, dan sederhana itu, lahir satu hal yang paling jarang dimiliki oleh kekuasaan: kejernihan batin. Karena itu, ketika Semar “mati” atau memilih meninggalkan dunia dalam lakon Semar Gugat, sesungguhnya yang sedang dikisahkan bukan wafatnya seorang punakawan, melainkan ambruknya tiang penyangga etik dari kekuasaan itu sendiri.

Kisah ini tetap terasa menggigit hingga hari ini, justru karena ia berbicara tentang gejala yang tidak pernah benar-benar usang: para pemimpin yang lebih gemar dipuji daripada diingatkan, elite yang mengira jabatan identik dengan kebenaran, dan kuasa yang mulai merasa tidak lagi membutuhkan pamong. Dalam bahasa wayang, saat itulah Semar pergi. Dalam bahasa kehidupan modern, saat itulah kekuasaan kehilangan jiwanya, lalu sibuk menutupi kehampaan itu dengan seremoni, slogan, dan kebisingan.

Semar: yang Rendah dalam Wujud, Tinggi dalam Martabat

Kebudayaan Jawa sangat cerdas dalam menyembunyikan yang agung di dalam yang sederhana. Ia tidak meletakkan kebijaksanaan tertinggi pada tubuh yang paling tampan, gelar yang paling tinggi, atau singgasana yang paling berkilau. Ia justru menaruhnya pada Semar: sosok yang secara lahiriah nyaris tidak punya alasan untuk dipuja, tetapi justru menjadi satu-satunya figur yang tak bisa dibeli oleh ambisi.

Di sini letak kejeniusan simbolik wayang. Para ksatria boleh tampak gagah, rapi, halus, dan menawan. Namun kehalusan lahir tidak selalu identik dengan kejernihan batin. Semar hadir untuk mengoreksi kemungkinan itu. Ia menegaskan bahwa yang menjaga dunia bukan semata ketangkasan perang atau kemegahan simbol, melainkan kemampuan membedakan yang benar dari yang menguntungkan, yang adil dari yang sekadar legal, dan yang luhur dari yang sekadar tampak agung.

Semar karena itu bukan pelengkap dramatik. Ia adalah pamong. Ia bukan penguasa, tetapi justru penjaga agar penguasa tidak berubah menjadi ancaman. Ia tidak duduk di takhta, tetapi tanpanya takhta kehilangan dasar moral. Ia tidak memegang senjata, tetapi justru darinya para ksatria belajar kapan senjata harus disarungkan. Dalam Semar, kebudayaan Jawa menegaskan bahwa sebuah kekuasaan yang sehat harus mau dipagari oleh kebijaksanaan yang tidak haus kuasa.

Kematian Semar: Saat Kebijaksanaan Menolak Dijadikan Aksesoris

Dalam pembacaan spiritual Jawa, “kematian” Semar lebih tepat dipahami sebagai tindakan menarik diri, semacam muksa atau pelepasan raga kasar dari dunia yang tak lagi menghargai makna pengayoman. Ia bukan mati karena kalah. Ia tidak tersingkir karena lemah. Ia pergi karena dunia yang ia jaga mulai terlalu congkak untuk dibimbing.

Ini yang membuat kisah tersebut sangat keras, justru karena ia disampaikan dengan cara yang tidak gaduh. Semar tidak menghantam para Pandawa dengan kutukan. Ia tidak menggulingkan istana. Ia hanya pergi. Tetapi justru dalam kepergian itulah tampak kedahsyatan gugatan itu: kebijaksanaan menarik restunya dari kekuasaan.

Dalam kehidupan politik dan sosial, situasi seperti ini sangat mudah dikenali. Ada masa ketika nasihat masih didengar, koreksi masih dihargai, dan perbedaan pandangan belum dianggap ancaman. Namun begitu sebuah kekuasaan mulai alergi pada pengingat, mulai membenci kritik, dan mulai menyingkirkan orang-orang yang jujur karena dianggap mengganggu kenyamanan, saat itu sebenarnya Semar sedang diusir secara perlahan. Bukan tubuhnya yang dibunuh, melainkan fungsinya yang dilumpuhkan.

Kebijaksanaan memang sering tidak dibinasakan secara frontal. Ia lebih sering diubah menjadi ornamen. Dipanggil saat upacara, dikutip saat pidato, dipajang saat legitimasi dibutuhkan, tetapi tidak sungguh-sungguh didengar ketika keputusan dibuat. Di titik itulah Semar “mati”: bukan karena tak ada, melainkan karena dibuat tak bermakna.

Para Pandawa dan Penyakit Lama Kekuasaan

Salah satu kekuatan lakon Semar Gugat ialah keberaniannya menunjukkan bahwa bahkan Pandawa—simbol ksatria adil—tidak kebal terhadap kerusakan moral. Mereka bisa tergelincir. Mereka bisa terseret oleh tahta. Mereka bisa menganggap kebijaksanaan sebagai suara pinggiran yang tak lagi mendesak. Ini penting, sebab wayang tidak menyederhanakan dunia menjadi hitam-putih. Bahkan pihak yang dianggap benar pun dapat rusak ketika terlalu lama dekat dengan kuasa.

Di sinilah lakon ini menjadi lebih dari sekadar cerita. Ia adalah anatomi penyakit lama kekuasaan. Pada mulanya, pemimpin mencari nasihat. Lalu setelah berkuasa, ia mulai memilih nasihat yang menyenangkan. Setelah itu, ia hanya mengelilingi diri dengan para pembenar. Dan pada tahap akhir, ia merasa dirinya sendirilah sumber kebenaran. Di tahap inilah pamong menjadi tidak diperlukan, sebab yang dibutuhkan hanyalah gema dari kehendak sendiri.

Penyakit ini tidak hanya menyerang kerajaan-kerajaan kuno dalam bayangan wayang. Ia menyerang birokrasi, lembaga, organisasi, bahkan rumah tangga. Ketika seseorang terlalu lama merasa tidak boleh salah, ia akan menganggap pengingat sebagai penghinaan. Ketika kekuasaan terlalu menikmati dirinya sendiri, ia akan pelan-pelan memutus hubungan dengan sumber koreksi moral. Saat itulah keruntuhan sesungguhnya dimulai.

Maka kepergian Semar adalah vonis yang sangat telanjang: para ksatria telah mulai lebih mencintai kedudukan daripada kebenaran. Mereka tidak sepenuhnya jahat, tetapi mereka telah mengalami gejala yang lebih berbahaya: merasa tetap benar meskipun sudah menjauh dari kebijaksanaan.

Goro-Goro: Ketika Keretakan Batin Menjadi Kekacauan Publik

Setelah Semar pergi, datanglah goro-goro. Dalam dunia wayang, ini adalah fase kekacauan: alam berguncang, manusia kehilangan pegangan, dan tatanan seperti copot dari engselnya. Tetapi goro-goro jangan dibaca sekadar sebagai efek dramatik. Ia adalah teori sosial Jawa dalam bentuk simbolik: bahwa kekacauan publik sering kali merupakan akibat dari keretakan batin di pusat kekuasaan.

Masyarakat modern sering mengira krisis hanya terjadi karena faktor ekonomi, konflik kepentingan, atau kelemahan institusi. Semua itu benar, tetapi kisah Semar menambahkan satu lapisan yang lebih dalam: krisis juga lahir saat nurani diusir dari pusat keputusan. Ketika penguasa lebih takut pada kritik ketimbang pada kesalahannya sendiri, ketika simbol kebijaksanaan hanya dipakai sebagai hiasan legitimasi, maka pelan-pelan masyarakat kehilangan arah. Yang tersisa hanya prosedur tanpa jiwa, slogan tanpa ketulusan, dan stabilitas semu yang rapuh.

Goro-goro adalah saat ketika dunia tak lagi tahu mana yang patut dihormati. Yang berisik dianggap penting. Yang licik dianggap cerdas. Yang teguh dianggap naif. Yang jujur dianggap menghambat. Dalam situasi seperti itu, masalah bukan lagi semata siapa memegang kuasa, tetapi bahwa kuasa itu sendiri telah kehilangan kemampuan untuk membedakan terang dan gemerlap.

Wayang mengajarkan bahwa bencana sosial tidak selalu dimulai dari luar. Sering kali ia berawal ketika pusat-pusat moral menjadi kosong. Ketika yang tinggal hanyalah kulit kekuasaan—rapi, resmi, sah, tetapi hampa pengayoman. Dan bukankah ini yang sering kita rasakan dalam banyak ruang publik: banyak keputusan berjalan, tetapi sedikit yang benar-benar menghadirkan rasa adil; banyak pidato diperdengarkan, tetapi sedikit yang membawa keteduhan?

Semar sebagai Koreksi atas Aristokrasi Moral

Dalam satu sisi, Semar adalah kritik paling tajam terhadap ilusi aristokrasi. Ia membuktikan bahwa martabat tidak identik dengan status. Di hadapan Semar, para ksatria yang paling halus sekalipun dapat terlihat dangkal bila kehilangan kejujuran batin. Ini adalah pukulan kebudayaan yang sangat keras: jangan mengira kebangsawanan lahir, gelar, bahasa halus, atau kedekatan dengan pusat kuasa otomatis membuat seseorang luhur.

Semar yang tampak rendah justru menjadi lebih tinggi dari mereka yang secara formal lebih mulia. Ini bukan pembalikan yang kebetulan. Ini adalah pernyataan etis bahwa ketinggian manusia ditentukan oleh kemampuan mengayomi, bukan oleh kemampuan menguasai. Oleh sebab itu, ketika tokoh seperti Semar pergi, yang hilang bukan hanya seorang penasihat. Yang hilang adalah ukuran moral yang membedakan kewibawaan sejati dari kemegahan palsu.

Kebudayaan Jawa tampaknya sangat sadar bahwa kekuasaan selalu punya kecenderungan untuk membangun mitologi tentang dirinya sendiri. Ia suka dikelilingi simbol, jarak, dan tata cara yang membuatnya tampak suci. Semar merusak mitologi itu. Ia hadir dengan tubuh yang tak memenuhi standar keagungan formal, tetapi justru dari sanalah lahir otoritas yang tak bisa dipalsukan. Ia membuat kebudayaan tetap punya alat untuk menertawakan kesombongan kuasa.

Karena itu, Semar Gugat juga dapat dibaca sebagai pemberontakan simbolik terhadap kekuasaan yang terlalu percaya pada penampilannya sendiri. Ia berkata, secara halus tetapi tegas: tahta tanpa nurani hanyalah panggung kosong.

Dimensi Historis: Wayang sebagai Arsip Kecurigaan Jawa pada Kuasa

Sulit memahami kekuatan Semar tanpa melihat latar sejarah Jawa yang panjang. Tradisi Jawa hidup bersama kerajaan-kerajaan, pergantian dinasti, intrik istana, kolonialisme, dan berbagai pengalaman ketika kuasa tampil agung dari luar tetapi rapuh dari dalam. Dalam pengalaman historis seperti itu, wayang menjadi ruang aman untuk menyimpan kritik yang tak bisa selalu diucapkan secara langsung.

Lakon seperti Semar Gugat dapat dibaca sebagai arsip kultural tentang kecurigaan Jawa terhadap kekuasaan yang kehilangan batas moral. Ia berbicara dalam bahasa mitos, tetapi memotret pengalaman yang sangat historis: penguasa yang mulai memisahkan diri dari rakyat, elite yang terlalu nyaman dengan lingkaran pujian, dan sistem yang tampak kokoh tetapi sebenarnya kehilangan legitimasi batin.

Semar, dalam konteks ini, mewakili suara koreksi yang tidak pernah sepenuhnya bisa dibungkam oleh istana. Ia adalah ingatan bahwa di atas klaim legal dan formal, selalu ada ukuran yang lebih dalam: apakah kuasa itu masih mengayomi, apakah ia masih punya malu, apakah ia masih bisa mendengar.

Saat Semar pergi, kebudayaan Jawa seperti sedang mengucapkan satu kalimat pahit: kekuasaan formal mungkin masih berdiri, tetapi restu moralnya sudah cabut. Dan ketika restu moral itu hilang, keruntuhan tinggal menunggu momentum.

Pertobatan: Satu-satunya Jalan Pulang

Menariknya, kisah ini tidak berakhir pada kehancuran total. Para Pandawa pada akhirnya sadar. Mereka mengalami keterkejutan moral. Mereka mulai mengerti bahwa selama ini mereka bukan hanya mengabaikan seorang pengasuh, tetapi menyingkirkan sumber terang bagi dirinya sendiri. Kesadaran itu penting, sebab ia menunjukkan bahwa kehancuran masih dapat dicegah selama ada kerendahan hati untuk mengakui kesalahan.

Dalam filsafat Jawa, pertobatan bukan sekadar penyesalan emosional. Ia adalah eling: pulihnya kesadaran akan posisi diri, batas diri, dan kebutuhan akan tuntunan. Para Pandawa harus belajar menjadi murid lagi. Dan di sinilah letak kedewasaan yang sesungguhnya. Bukan pada kemampuan selalu tampak benar, melainkan pada keberanian untuk kembali menerima bahwa diri sendiri dapat sesat.

Ini pelajaran yang mahal untuk zaman kini. Kita hidup di masa ketika banyak orang lebih takut kehilangan citra daripada kehilangan arah. Permintaan maaf sering dianggap kelemahan. Koreksi dianggap ancaman. Padahal tanpa kemampuan bertobat, tidak ada jalan pulang bagi siapa pun—baik individu, lembaga, maupun kekuasaan.

Para Pandawa baru layak dipulihkan setelah mereka meninggalkan keangkuhan. Mereka kembali memohon, bukan memerintah. Mereka merendah, bukan berargumentasi untuk membenarkan diri. Dalam bahasa sekarang, mereka berhenti membangun narasi dan mulai memulihkan nurani.

Kembalinya Semar: Harapan setelah Keruntuhan Etik

Semar akhirnya kembali. Tetapi kepulangannya bukan sekadar happy ending. Ia adalah pesan kebudayaan yang sangat penting: kebenaran bisa diabaikan, tetapi tidak pernah benar-benar musnah. Pengayoman bisa menjauh, tetapi tetap mungkin dipanggil kembali oleh pertobatan yang tulus. Kebijaksanaan tidak pendendam, tetapi juga tidak murahan. Ia tidak akan tinggal di tempat yang congkak, namun tak menutup pintu bagi mereka yang sungguh ingin memperbaiki diri.

Kembalinya Semar berarti pulihnya hubungan antara kekuasaan dan batas moralnya. Yang hidup kembali bukan hanya seorang tokoh, melainkan daya ayom yang menjaga agar dunia tidak meluncur ke jurang yang lebih dalam. Kebudayaan Jawa, dengan demikian, bukan budaya yang putus asa. Ia keras dalam memberi peringatan, tetapi tetap membuka kemungkinan pemulihan.

Ini penting, sebab kritik budaya yang sejati tidak berhenti pada penghukuman. Ia harus juga menunjukkan syarat-syarat pemulihan. Dalam Semar Gugat, syarat itu jelas: kesadaran, kerendahan hati, dan kesediaan untuk kembali mendengar. Tanpa itu, Semar tidak akan pernah benar-benar pulang.

Membaca Lakon Ini Hari Ini

Mengapa kisah ini tetap terasa dekat? Karena kita hidup di masa yang nyaris setiap hari mempertontonkan gejala serupa. Banyak struktur kekuasaan berdiri megah, tetapi miskin pamong. Banyak bahasa moral dipakai, tetapi jarang dijadikan dasar tindakan. Banyak orang berbicara atas nama kebijaksanaan, tetapi sebenarnya hanya sedang memperkuat kepentingannya sendiri.

Dalam suasana seperti ini, pertanyaan pokoknya bukan lagi apakah Semar ada atau tidak. Pertanyaannya adalah apakah suara seperti Semar masih punya tempat. Apakah sistem kita masih memberi ruang bagi koreksi yang jujur? Apakah pemimpin kita masih mau diingatkan oleh sesuatu yang tidak tunduk pada logika pencitraan? Apakah masyarakat kita masih menghormati pengayoman, atau justru lebih menyukai kegaduhan yang tampak heroik?

Kita mungkin tidak lagi hidup dalam dunia Pandawa dan Kurawa. Tetapi kita tetap hidup dalam dunia yang bisa kehilangan pamongnya. Dan ketika itu terjadi, gejalanya selalu sama: keputusan makin kering, bahasa makin kosong, rakyat makin jauh dari pusat kuasa, dan keadilan makin sering hadir sebagai slogan ketimbang pengalaman nyata.

Di titik itulah Semar Gugat menjadi lebih dari sekadar warisan budaya. Ia menjadi cermin yang tak nyaman. Ia memaksa kita melihat bahwa peradaban tak runtuh hanya karena serangan dari luar, tetapi juga karena kelelahan batin di dalam. Karena suara pengingat terlalu lama disepelekan. Karena kebijaksanaan terlalu sering dijadikan dekorasi.

Penutup: Sebelum Semar Benar-Benar Pergi

Lakon Semar Gugat mengajarkan bahwa yang paling berbahaya bagi sebuah kekuasaan bukan semata lawan politik, musuh dari luar, atau krisis teknis. Yang paling berbahaya adalah saat ia merasa tak lagi membutuhkan pamong. Sebab pada saat itulah kuasa berubah menjadi tubuh tanpa jiwa, prosedur tanpa hikmat, dan kemenangan tanpa kemuliaan.

Semar adalah lambang dari satu hal yang makin langka: otoritas moral yang tidak haus dominasi. Ia tidak mencari tahta, tetapi tanpanya tahta kehilangan dasar. Ia tidak memburu pengaruh, tetapi kepergiannya membuat dunia limbung. Ia tidak berteriak, tetapi diamnya lebih tajam daripada ribuan pidato. Maka ketika Semar memilih pergi, sesungguhnya kebudayaan sedang memperingatkan kita bahwa kebijaksanaan yang diabaikan pada akhirnya akan menarik dirinya sendiri dari kehidupan bersama.

Dan jika itu terjadi, kita mungkin masih punya negara, lembaga, jabatan, aturan, bahkan kemegahan. Tetapi semua itu tinggal kerangkanya.

Pertanyaan yang tersisa menjadi sangat sederhana, sekaligus sangat menentukan: masihkah kita cukup rendah hati untuk mendengar Semar sebelum yang tersisa dari kekuasaan hanya kulitnya, tanpa jiwa, tanpa malu, tanpa pengayoman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *