Monwnews.com, Pasuruan – Hama tikus merupakan salah satu ancaman serius bagi sektor pertanian, terutama di Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Serangan tikus dapat menyebabkan kerugian hasil panen yang signifikan mencapai 30% hingga 50%. Kerugian ini tidak hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga mengancam hasil panen lokal. Selain itu, banyak petani yang masih menggunakan metode pengendalian hama yang tidak ramah lingkungan.
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat di desa Toyaning tentang praktik pengendalian hama yang berkelanjutan semakin memperburuk situasi ini. Sementara, perubahan lingkungan dan iklim juga berkontribusi pada peningkatan populasi tikus. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif untuk mengatasi permasalahan ini demi mewujudkan pertanian yang berkelanjutan dan mendukung swasembada pangan.
Persoalan diatas itu yang melatarbelakangi Mahasiswa Universitas Jember melakukan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Toyaning.
“Kami ingin membantu mengatasi persoalan yang ada di desa Toyaning, terutama masalah hama tikus, karena ini ancaman sangat serius bagi petani di Desa Toyaning,” ujar Edgar Indrastata, Mahasiswa Fakultas Hukum semester 7 yang ikut dalam kelompok KKN tersebut.

Edgar mengatakan, walaupun dirinya mahasiswa Fakultas Hukum, tapi di kelompok KKN ini ada juga rekan-rekan fakultas pertanian. “Ini kerja kelompok, dan kami membawa nama Unej, jadi tugas-tugas yang kami lakukan di desa ini harus bisa bermanfaat bagi masyarakat disini, utamanya Petani,” tambahnya.
Tugas KKN Unej Membangun Desa (UMD) yang dilakukan ini sudah berjalan sejak 24 Juli 2025 dan akan berakhir tanggal 15 Agustus 2025, dengan judul kegiatan “Optimalisasi Pertanian Berkelanjutan Melalui Gerakan Bersama Pemberantasan Hama Tikus Di Desa Toyaning Dengan Tujuan Membangun Kesadaran Dan Partisipasi Masyarakat Demi Mewujudkan Swasembada Pangan”
Edgar menjelaskan dalam proposalnya ke media ini, bahwa Desa Toyaning merupakan desa dengan potensi pertanian yang cukup besar didukung dengan kondisi geografisnya berada di wilayah dataran rendah subur serta akses air yang memadai. Wilayah ini menjadi bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso yang tengah menerapkan program pelestarian bernama “Gerakan Rejoso Kita”, dengan tujuan menjaga ketersediaan air, mencegah degradasi lahan, serta mendorong praktik pertanian berkelanjutan. Mayoritas lahan di desa ini menerapkan budidaya padi dengan jenis bibit IR 32 yang mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menghemat penggunaan air.
Desa Toyaning menghadapi tantangan berupa degradasi lahan, serangan hama tikus, dan penguatan kelompok tani. Dengan penerapan pertanian terpadu dan sinergi berbagai pihak, Desa Toyaning diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Permasalahan tersebut menjadikan mahasiswa KKN UMD UNEJ dapat menerapkan ilmu-ilmu praktis guna menciptakan suatu program kerja yang bermanfaat bagi pertanian di desa Toyaning, (edgar/red)












