Saling Asah Asih Asuh Dalam Kepemimpinan Nasional Satunya Kata Dan Serta Perbuatan

Oleh : mBah Kuntjir INAKER.

mBah Kuntjir INAKER.

Monwnews.com – Falsafah Nusantara Saling Asah, Asih, dan Asuh merupakan fondasi penting dalam membangun tata laksana kepemimpinan nasional. Ketika prinsip ini dipadukan dengan integritas moral di mana ada keselarasan mutlak antara ucapan dan tindakan maka terciptalah sebuah pola kepemimpinan yang kokoh, beretika, dan berjiwa Pancasila.

​Berikut adalah bedah filosofis kepemimpinan berintegritas melalui tiga dimensi utama: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi.

1. Kajian Ontologisnya Hakikat Kepemimpinan Satu Kata Dengan Perbuatan ?

Ontologi kepemimpinan membahas apa itu kepemimpinan, bagaimana kepemimpinan menghasilkan perintah, dan serta bagaimana kepemimpinan efektif efisien berdampak pada bawahan, pengikut dan serta organisasi tata laksana.

Adapun Hakikat Kepemimpinan.

Kepemimpinan berasal dari kata lead ( bahasa Anglo Saxon ) yang artinya jalur perjalanan kapal yang mengarahkan awak kapal ke tujuan bersama.

Pemimpin adalah orang yang berhasil mengumpulkan orang lain untuk mengikutinya, menentukan tujuan, memotivasi, dan menindak pengikutnya.

Dalam pandangan ontologis, kepemimpinan dipahami sebagai upaya menelusuri hakikat terdalam dari eksistensi kepemimpinan itu sendiri.

Hakikat Integritas dalam Satu Kata dengan Perbuatan dimana integritas memiliki lima makna fundamental yaitu ;

~ Pertama, Wholeness ( Kebulatan/Kesatuan ) dengan Kesatuan antara pikiran, sikap, kata-kata, dan perilaku sepanjang waktu.

~ Kedua, Konsistensi dalam Keragaman Tidak Kekanakan dan etap konsisten pada pendirian ketika menghadapi keputusan kompleks yang melibatkan banyak pihak.

~ Ketiga, Otentik berkarakter dengan menunjukkan kesamaan antara ucapan dan perkataan yang tertanam dalam diri, bukan karena paksaan sosial.

~ Keempat, Konsistensi Kata dan Tindakan sehingga Individu tidak boleh hanya beretorika, harus diaplikasikan dalam tindakan sehari-hari secara terus-menerus.

~ Kelima, Etika dan Moralitas terhadap integritas berkaitan dengan etika dan moralitas yang memperhatikan konsekuensi pada orang lain/komunitas.

Kesimpulannya dalam Ontologis adalah Kepemimpinan yang satu kata dengan perbuatan adalah kesatuan holistik antara pikiran, nilai, ucapan, dan tindakan yang konsisten sepanjang waktu, bukan sekadar retorika tanpa aplikasi nyata.

2. Kajian Epistemologisnya Bagaimana Cara Menguasai/Melaksanakan Kepemimpinan Integritas ?

Epistemologi kepemimpinan berkenaan dengan cara melaksanakan kepemimpinan, serta ruang lingkup kepemimpinan.

Seseorang diakui sebagai pemimpin bila kepadanya diberikan kepercayaan, karena pemimpin adalah orang yang dikuti kata-kata dan serta perbuatannya, dikuti karena dipercaya, dan kepercayaan adalah pilar utama pemimpin.

Adapun Cara Menguasai Kepemimpinan Integritas tersebut.

A. Empat Dimensi Kapasitas Integritas (Petrick & Quinn, 2000) tsb.

Process Integrity Capacity Kekuatan dan pemahaman moral sebagai refleksi apa yang dianggap salah/benar, resolusi moral yang bisa dipertanggungjawabkan secara publik, komitmen moral dan karakter sebagai pegangan membuat keputusan dalam dilema, koherensi moral sebagai harmonisasi antara prinsip dan praktik.

Judgment Integrity adalah gabungan teori manajemen, etika, dan hukum membentuk kebijakan beretika, menggunakan rational goal theory, internal process theory, human relations theory, open system theory, memanfaatkan teori etika dalam teleologi, deontologi, virtue ethics.

Development Integrity Capacity dimana perkembangan kognitif kemampuan memberikan argumen moral individual dan kolektif, mengikuti 6 tahap perkembangan moral Kohlberg dari takut hukuman, reward, diterima masyarakat, bagian masyarakat, utilitarianisme/kontrak sosial, hingga orientasi deontologi.

System Integrity Capacity bentuk pelaksanaan kebijakan organisasional yang menguatkan perkembangan moral melalui program budaya kerja berbasis integritas, struktur organisasi menunjang integritas, kode integritas tertulis, integritas dalam rekruitmen, pelatihan integritas, audit integritas.

B. Empat Dimensi Individual Integrity Dan Serta

Moral Awareness yaitu kapasitas bagaimana mendengar merasakan dan memiliki sensitivitas berkaitan dengan isu etika relevan dalam pembuatan keputusan yang berimplikasi pada orang lain.

Moral Deliberation kemampuan dan kapasitas mengolah dengan analisis sebuah keputusan, mempertimbangkan jangka panjang, risiko, dan konsekuensi.

Moral Character dalam mempertimbangkan diantara moral menjadi bagian karakter seperti semangat, kejujuran, keadilan, kebaikan bersama, kepercayaan, welas asih.

Moral Conduct adalah perwujudan tindakan bermoral yang bisa dilihat dan dijadikan referensi oleh individu lain.

C. Metode Epistemologis dalam Walk the Talk dalam kepemimpinan, walk the talk berarti integritas adalah keselarasan antara nilai, ucapan, dan tindakan yang diwujudkan melalui kejujuran, amanah, tanggung jawab, konsistensi.

Membumi dalam satunya ide dengan tindakan, dan tindakan itu bisa terimplementasikan.

Keteladanan: Bukan hanya ngomong doang, tetapi harus dengan keteladanan dan tindakan.

Kesimpulan Epistemologisnya dalam Kepemimpinan Integritas dikuasai melalui pengembangan 4 kapasitas integritas ( process, judgment, development, system ) dan serta 4 dimensi individual integrity ( moral awareness, deliberation, character, conduct ), dengan metode walk the talk dan keteladanan nyata.

3. Kajian Aksiologis Tujuan, Manfaat, Nilai Kepemimpinan Berintegritas ?

Aksiologi kepemimpinan berkenaan dengan tujuan dan manfaat serta nilai-nilai kepemimpinan.

A. Tujuan Kepemimpinan Integritas tersebut ;

Pertama, Menciptakan Kepemimpinan Beretika dimana pemimpin yang berintegritas sebagai nilai moral akan menciptakan kepemimpinan yang beretika.

Kedua, Tatanan Sosial Baik dalam kepemimpinan integritas perlu dikuatkan untuk menciptakan tatanan sosial yang baik.

Ketiga, Kepercayaan Pemangku Kepentingan berguna menciptakan kepercayaan publik oleh para pemangku kepentingan dan serta menunjukkan kinerja institusi yang baik secara keseluruhan.

B. Manfaat Empiris Kepemimpinan Integritas tersebut ;

Pertama, Membentuk moral baik guna membantu pelaku bisnis/individu dalam organisasi membentuk moral baik, menghindari tindakan merugikan publik seperti penyuapan, penggelapan, pelanggaran kepentingan pribadi.

Kedua, Memahami risiko dan konsekuensi sehingga memahami segala risiko dan konsekuensinya beserta baik-buruk tindakannya, mengedepankan pandangan utilitarianisme.

Ketiga, Pegangan keputusan dalam integritas menjadi pegangan untuk membuat keputusan sehingga perilaku korupsi akan terkurangi karena selalu transparan ataupun terhindarkan.

Keempat, menentukan sikap bebas dimana Individu terbuka tidak anti kritik membangun dan serta dapat menentukan sikap tanpa terikat sesuatu yang harus dijalankan, asalkan sesuai hati nurani dan nilai integritas, memperhatikan sisi emosional dan kemanusiaan.

C. Dampak Positif Integritas Kepemimpinan dapat ;

-Meningkatkan kepercayaan publik,

meminimalkan perilaku menyimpang,

-Mengurangi perilaku agresivitas.

-Mendukung pelaksanaan bisnis sehat dan

menghindari penyelewengan nilai-nilai dan anti-sosial.

-Mendukung iklim kerja beretika dan mendukung kepemimpinan beretika.

D. Nilai-Nilai Fundamental Integritas dalam konsistensi kata dan tindakan dimana konsistensi kata maupun tindakan harus sejalan, tidak boleh hanya beretorika.

Dalam Kejujuran sehingga keintegritasan melibatkan kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.

Amanah dan serta skaligus bertanggung jawab dan terbangun kepercayaan.

Berkeadilan dalam memperhatikan kepentingan semua pemangku kepentingan.

Saling asah asih asuh dan sehingga kasih sayang timbulah berkemanusiaan welas asih dalam memperhatian pada sesama.

E. Integritas Sebagai Sumber Daya Utama jika menurut Petrick dan Quinn (2000), integritas pemimpin merupakan sumber daya utama selain modal dalam soft-competence yang dimiliki institusi.

Kompetensi inti merupakan aspek daya saing bagi institusi agar mampu menunjukkan kinerja dan keberlangsungan jangka panjang.

Integritas yang melekat pada individu dalam organisasi termasuk para pemimpin bisa menjadi sesuatu yang unik dan dijadikan identitas institusi yang memiliki reputasi baik di mata pemangku kepentingan.

F. Kaitan dengan Pancasila Bahwasannya Kepemimpinan Nasional yang berjiwa Pancasila dapat menjadi investasi masa depan bangsa dengan menerapkan nilai-nilai integritas, konsistensi, dan keteladanan.

Kesimpulan Aksiologisnya Tujuan kepimpinan integritas adalah menciptakan tatanan sosial baik, kepemimpinan beretika, dan serta kepercayaan publik maupun pemangku kepentingan.

Manfaatnya meliputi pembentukan moral baik, terhindar dari korupsi, iklim kerja beretika, dan keberlangsungan institusi jangka panjang.

Nilai fundamentalnya adalah konsistensi kata-tindakan, kejujuran, amanah, keadilan, dan kasih sayang.

Adapun Sintesis dalam Integrasi Ontologi – Epistemologi-Aksiologi

Kepemimpinan ber Integritas dalam dimensi Ontologi berfokus pada hakikat dengan inti kesatuan holistik pikiran – nilai – ucapan – tindakan yang konsisten sepanjang waktu.

Dimensi Epistemologi berfokus pada cara dengan inti 4 kapasitas integritas plus 4 dimensi individual integrity plus walk the talk plus keteladanan.

Dimensi Aksiologi berfokus pada tujuan dan nilai dengan inti tatanan sosial baik, kepemimpinan beretika, kepercayaan, bebas korupsi, iklim kerja beretika.

Rumus Kepemimpinan Integritas adalah Integritas = Wholeness × Konsistensi × Otentik × Konsistensi Kata-Tindakan × Etika-Moralitas.

Tercapailah Investasi Masa Depannya Kepemimpinan Nasional Berjiwa Pancasila Murni dan Konsekwen dengan pembantu-pembantu mumpuni keharusan dan serta berjiwa satu kata-perbuatan adalah investasi masa depan bangsa yang dapat mencegah amuk massa akibat masa tenang cerdas sabar sudah melakukan dua tahapan yaitu ngalah-ngalih namun dikarenakan kesempitan tunakarya menggangu kebutuhan pokoknya.

JANGAN KAGETAN, JANGAN CEPAT KEHERANAN

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang berkumpul bersolusi dengan kecerdasaan akal nalar pikir ilmu dan serta derajad keimanan personal berkebangsaannya.

Dan jangan lupa tersenyum bahagia sesuai kemampuan cara dan serta gaya guna menjaga kesehatan jiwa-jiwa merdeka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *