Perang Kebudayaan dan Elite yang Menjual Kesadaran

Oleh: Rizal Haqiqi - Alumni GMNI UIN Sunan Ampel Surabaya, Ksatria Merah Jambu Foundation

Monwnews.com, Ada satu jenis perang yang tidak pernah diumumkan secara resmi, tidak disiarkan dengan sirene, tidak memerlukan mobilisasi umum, tetapi akibatnya bisa jauh lebih dalam daripada dentuman meriam. Ia tidak menghancurkan gedung, tetapi membongkar isi kepala. Ia tidak merebut wilayah, tetapi mengambil alih cara manusia memandang dirinya sendiri. Imam Ali Khamenei, dalam bukunya yang berjudul Perang Kebudayaan, menyebutnya dengan cukup telanjang: perang non-fisik yang menyasar kesadaran manusia.

Rizal Haqiqi - Alumni GMNI UIN Sunan Ampel Surabaya, Ksatria Merah Jambu Foundation
Rizal Haqiqi – Alumni GMNI UIN Sunan Ampel Surabaya, Ksatria Merah Jambu Foundation

Di situlah letak ironi dunia modern. Kita hidup di zaman yang mengaku paling bebas, paling terbuka, paling tercerahkan, tetapi justru pada saat yang sama paling mudah diarahkan, diprogram, dan dibentuk dari luar. Kita diberi ilusi memilih, padahal menu pilihan sudah disusun. Kita diajak merasa merdeka, padahal selera, ketakutan, kemarahan, bahkan cita-cita kita telah dipetakan, dikurasi, dan diperdagangkan.

Perang kebudayaan hari ini bukan lagi konsep pinggiran milik negara-negara yang paranoid terhadap Barat. Ia telah menjadi struktur dasar dunia kontemporer. Dunia tidak lagi hanya dibelah oleh senjata, blok militer, dan jalur dagang. Dunia kini dibelah oleh narasi, citra, platform, algoritma, dan mesin produksi makna. Yang menguasai pelabuhan dulu mengendalikan barang; yang menguasai pikiran sekarang mengendalikan masa depan.

Masalahnya, banyak elite di negeri-negeri berkembang masih berpikir perang sebagai soal tank, kapal induk, atau rudal hipersonik. Mereka gagal memahami bahwa abad ke-21 adalah abad kolonisasi kesadaran. Penaklukan tidak perlu lagi datang dengan serdadu. Cukup dengan layar. Cukup dengan kurikulum. Cukup dengan film. Cukup dengan influencer. Cukup dengan jargon-jargon modernitas yang terdengar cerdas, tetapi diam-diam mencabut manusia dari akar sejarah dan kebudayaannya.

Di sinilah buku Perang Kebudayaan layak dibaca bukan sebagai dokumen ideologis Iran semata, melainkan sebagai alarm keras bagi bangsa-bangsa yang terlalu lama hidup sebagai pasar, bukan sebagai subjek peradaban. Buku itu menjelaskan bagaimana perang semacam ini bekerja secara halus, senyap, sistematis, dan terorganisasi untuk menggoyahkan keyakinan, memutus masyarakat dari nilai dasarnya, dan mengganti orientasi hidup mereka dengan nilai-nilai baru yang sesuai kepentingan pihak dominan.

Kita boleh tidak setuju dengan seluruh sudut pandang Khamenei. Kita boleh mengkritik simplifikasi Timur versus Barat yang kadang terlalu tebal dalam bangunan argumentasinya. Tetapi untuk satu hal, sulit membantahnya: global order modern memang bekerja bukan hanya dengan uang dan senjata, melainkan dengan kebudayaan.

Kapitalisme global sejak lama sadar bahwa dominasi paling murah adalah dominasi yang tidak terasa sebagai dominasi. Kalau sebuah bangsa masih harus ditaklukkan dengan invasi, itu mahal, berisik, dan berisiko. Tetapi kalau bangsa itu bisa dibuat jatuh cinta pada nilai-nilai yang melemahkannya sendiri, maka penjajahan menjadi jauh lebih efisien. Korban akan merasa sedang maju, padahal sedang dipreteli. Korban akan merasa modern, padahal sedang dijauhkan dari daya tahannya. Korban akan merasa kosmopolit, padahal sekadar menjadi konsumen yang patuh.

Dulu kolonialisme merampok rempah-rempah, tanah, dan tenaga kerja. Sekarang yang dirampok adalah perhatian, imajinasi, dan definisi tentang apa yang layak dianggap benar, indah, sukses, dan bermartabat. Itulah sebabnya perang kebudayaan jauh lebih berbahaya. Ia membuat sebuah bangsa tidak sadar bahwa ia telah kehilangan dirinya. Ia tetap berdiri, tetap bernyanyi, tetap berbelanja, tetap memilih dalam pemilu, tetapi jiwanya sudah dicetak ulang di pabrik-pabrik makna global.

Lihatlah cara dunia digital bekerja. Algoritma tidak netral. Platform tidak lahir dari ruang hampa. Infrastruktur informasi global bukan taman kota yang dibangun untuk kesenangan umum. Ia adalah mesin bisnis sekaligus mesin kuasa. Apa yang muncul di beranda, apa yang menjadi viral, apa yang dibenci bersama, apa yang ditertawakan, apa yang dianggap keren, semuanya bukan proses alamiah murni. Semua dimediasi oleh struktur yang punya kepentingan. Dan di era itu, perang kebudayaan bukan lagi sekadar perang gagasan. Ia telah bermetamorfosis menjadi perang algoritma.

Yang paling menyedihkan, banyak elite nasional justru menyambut proses ini dengan tangan terbuka. Mereka menjadi broker budaya asing di negerinya sendiri. Mereka bicara kedaulatan di podium, tetapi menyerahkan data rakyat pada korporasi global. Mereka bicara nasionalisme saat upacara, tetapi membiarkan ruang publik dikuasai logika platform asing. Mereka mengutuk kolonialisme dalam pidato sejarah, tetapi setiap hari mempraktikkan bentuk baru dari mental inlander digital: menganggap yang datang dari luar selalu lebih rasional, lebih modern, lebih sahih, lebih layak ditiru.

Akibatnya, bangsa seperti Indonesia hidup dalam situasi ganjil. Secara formal merdeka, tetapi secara simbolik mudah dijajah. Secara politik berdaulat, tetapi secara kultural sangat gampang digiring. Kita bangga sebagai negara besar, tetapi imajinasi kita tentang kemajuan sering kali masih barang impor. Kita memuja kemandirian, tetapi ukuran sukses kita tetap disusun oleh pasar global, lembaga rating, tech platforms, industri hiburan transnasional, dan selera elite metropolitan yang mentalnya lebih dekat ke konsultan global ketimbang ke denyut rakyatnya sendiri.

Perang kebudayaan bekerja paling efektif justru ketika ia bersekutu dengan kelas menengah yang haus pengakuan. Kelas ini selalu ingin tampak modern, tampak waras, tampak relevan, tampak global. Dalam banyak hal, mereka bukan agen perubahan, melainkan agen translasi kepatuhan. Mereka menerjemahkan keinginan global order ke dalam bahasa lokal yang tampak elegan. Mereka mengajarkan rakyat bagaimana merasa malu menjadi dirinya sendiri.

Di titik inilah kritik Khamenei betapapun ideologis menjadi tajam. Ia menyoroti bahwa sasaran utama perang kebudayaan adalah keyakinan, moral, dan orientasi hidup masyarakat. Artinya, yang ingin dihancurkan bukan sekadar institusi, melainkan fondasi batin yang membuat masyarakat memiliki daya tahan. Karena masyarakat yang masih punya keyakinan kuat, memori sejarah yang utuh, dan rasa hormat pada kebudayaannya sendiri tidak akan mudah diubah menjadi pasar yang jinak.

Namun global order tidak suka masyarakat yang terlalu sadar sejarah. Sejarah adalah musuh besar industri manipulasi. Bangsa yang ingat dirinya sulit dijual murah. Karena itu, salah satu strategi paling efektif adalah membuat kebudayaan lokal tampak kuno, agama tampak menghambat, tradisi tampak irasional, dan memori kolektif tampak tidak produktif. Setelah itu, tinggal tawarkan paket lengkap: gaya hidup serba instan, identitas serba cair, moral serba fleksibel, dan politik serba pencitraan.

Maka lahirlah manusia modern yang sangat sibuk, tetapi kosong. Sangat terhubung, tetapi tercerabut. Sangat informatif, tetapi miskin kebijaksanaan. Sangat vokal, tetapi kehilangan bahasa untuk menyebut penindasan yang sebenarnya ia alami.

Dalam konteks geopolitik global, perang kebudayaan ini kini menjadi instrumen semua kekuatan besar. Amerika Serikat telah lama menggunakannya melalui industri hiburan, media, universitas, think tank, platform teknologi, dan bahasa hak asasi yang sering kali dipakai lentur sesuai kebutuhan geopolitik. China, di sisi lain, mengembangkan versi lain melalui ekspansi teknologi, infrastruktur digital, kontrol narasi domestik, dan model modernitas yang menukar kebebasan politik dengan efisiensi negara. Rusia bermain melalui perang informasi, disinformasi, dan produksi kebingungan. Bahkan negara-negara regional pun mulai paham bahwa menguasai persepsi lebih murah daripada menguasai wilayah.

Jadi, perang kebudayaan bukan monopoli satu blok. Ia adalah tata bahasa baru kekuasaan global. Bedanya hanya pada gaya. Ada yang menjajah sambil berkhotbah tentang kebebasan. Ada yang mengendalikan sambil menjual stabilitas. Ada yang memengaruhi sambil mengaku netral. Semua memakai topeng berbeda, tetapi tujuannya sama: mengarahkan cara masyarakat lain memahami dunia.

Di tengah situasi itu, Indonesia tampak seperti rumah besar yang pintunya selalu terbuka tetapi penjaganya sibuk berdebat soal dekorasi. Kita gaduh di permukaan, tetapi lengah pada struktur. Kita marah pada gejala, tetapi tak pernah benar-benar menyentuh infrastruktur kuasa yang melahirkan gejala itu. Kita sibuk saling serang di media sosial, sementara data, atensi, dan arah emosi publik dipanen setiap detik oleh mesin yang tidak kita kendalikan.

Inilah tragedi terbesar demokrasi digital kita: ia tampak ramai, tetapi sesungguhnya rapuh. Ruang publik bukan lagi arena percakapan rasional, melainkan pasar reaksi. Yang menang bukan yang paling benar, melainkan yang paling keras, paling cepat, paling provokatif, dan paling sanggup membeli distribusi. Dalam keadaan seperti itu, perang kebudayaan tidak perlu dilakukan dari luar saja. Ia bisa dikerjakan dari dalam, oleh elite lokal yang sudah lama belajar bahwa rakyat lebih mudah dikelola jika dibuat sibuk marah pada isu yang salah.

Karena itu, ancaman sesungguhnya bukan hanya dominasi asing, tetapi perselingkuhan antara global order dan elite domestik. Yang satu menyediakan model, teknologi, dan narasi. Yang lain menyediakan pintu masuk, legitimasi, dan jaringan kepatuhan. Kolaborasi itulah yang membuat penjajahan baru tampil sopan, legal, dan kadang bahkan populer.

Lalu apa jalan keluarnya? Tentu bukan xenofobia murahan. Bukan pula menutup diri dari dunia. Bangsa yang menutup jendela akan pengap, tetapi bangsa yang membiarkan semua orang keluar-masuk tanpa kendali akan kehilangan rumahnya. Yang dibutuhkan adalah kedaulatan kebudayaan: kemampuan untuk menyaring tanpa minder, menyerap tanpa tunduk, dan berdialog tanpa kehilangan pusat gravitasinya sendiri.

Kedaulatan kebudayaan itu mensyaratkan beberapa hal. Pertama, literasi kritis. Bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi membaca kepentingan. Masyarakat harus belajar membedakan informasi dari operasi, tren dari rekayasa, percakapan dari penggiringan. Kedua, produksi narasi sendiri. Bangsa yang tidak menulis dirinya akan ditulis oleh orang lain. Ketiga, kedaulatan digital. Tidak masuk akal bicara kemerdekaan abad ke-21 jika seluruh arsitektur persepsi publik dititipkan pada platform asing. Keempat, keberanian membongkar kemunafikan elite yang menjual modernitas sambil membiarkan rakyat kehilangan daya tahan budayanya.

Pada akhirnya, inti persoalannya sederhana: perang kebudayaan adalah perang untuk menentukan siapa yang berhak mendefinisikan kenyataan. Dalam perang semacam ini, bangsa yang kalah belum tentu hancur secara fisik. Ia bisa tetap hidup, tetap tumbuh, tetap membangun jalan tol, tetap bangga pada statistik ekonomi. Tetapi ia tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Ia menjadi tubuh tanpa memori, pasar tanpa martabat, negara tanpa jiwa.

Dan itu mungkin bentuk kekalahan paling sempurna.

Buku Perang Kebudayaan mengingatkan bahwa perang seperti ini berlangsung diam-diam, menyeluruh, dan terencana.  Kita boleh berdebat tentang ideologi penulisnya, tetapi sulit menolak kenyataan yang sedang berlangsung di depan mata: dunia memang sedang diperebutkan melalui pikiran manusia.

Masalahnya, apakah kita cukup jujur untuk mengakuinya?

Atau kita akan terus berpura-pura merdeka, sambil setiap hari menyewakan kesadaran kita kepada pasar, platform, dan elite yang tak pernah benar-benar percaya bahwa bangsa ini layak berpikir dengan kepalanya sendiri?

Exit mobile version