Menyusuri Samudra Jiwa: Renungan Sufistik tentang Syair Mengenal Allah

Oleh: H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara

Monwnews.com, Air jernih di permukaan danau yang tenang mampu memantulkan wajah kita dengan sempurna. Tak ada riak, tak ada kabut, tak ada kotoran. Wajah yang terpantul adalah diri kita yang sesungguhnya—atau setidaknya demikian yang diisyaratkan dalam sebuah bait syair klasik yang kerap dikutip para peziarah dan pencari kebenaran.

H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara
H. Tri Prakoso – Perkumpulan Pendoa Nusantara

”Jika kamu ingin mengenal Allah, Hiduplah dirimu dalam kejernihan, seperti air yang jernih, kamu akan bisa melihat wajahmu yang sesungguhnya.”

Demikian bunyi penggalan syair yang menjadi pintu masuk perenungan ribuan orang selama berabad-abad. Bait demi bait mengajak pembaca menapaki jalan sunyi: kesunyian, kesepian, cahaya, hingga keheningan. Bagi mereka yang akrab dengan lorong-lorong tasawuf, syair ini bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia adalah peta perjalanan ruhani yang telah ditempuh para wali sejak masa Hasan al-Bashri hingga Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Saya mencoba menyelami makna syair tersebut dengan merujuk pada kitab-kitab klasik, terutama Jami’ul Ushul fi al-Awliya karya Imam Jalaluddin al-Suyuthi, serta Ihya’ ‘Ulum al-Din al-Ghazali dan al-Futuhat al-Makkiyyah Ibn Arabi. Hasilnya, syair itu ternyata merangkum secara padat lima tahap spiritual menuju ma’rifatullah—pengenalan akan Tuhan yang tidak cukup diraih dengan akal semata.

Kejernihan: Membasuh Karat Hati

Bait pertama mengandaikan air jernih sebagai cermin. Dalam tradisi sufi, hati manusia disamakan dengan cermin. Semakin bersih cermin itu dari debu dan karat, semakin sempurna pantulan cahaya Tuhan. Karat dimaksud adalah sifat-sifat tercela: sombong, riya, dengki, cinta dunia, dan segala bentuk penyakit hati.

Syekh Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis panjang lebar tentang mujahadah—kesungguhan melawan hawa nafsu. Beliau mengibaratkan hati sebagai sumur yang keruh; jika ingin airnya jernih, harus dikuras dulu lumpurnya. Proses menguras inilah yang disebut takhalli dalam istilah sufi.

Imam al-Suyuthi dalam Jami’ul Ushul fi al-Awliya—kitab yang mengumpulkan perkataan para wali dan hadis-hadis qudsi—meriwayatkan sebuah ucapan Sahl al-Tustari: “Tidak akan sempurna seorang hamba dalam mengenal Tuhannya selama di dalam hatinya masih tersisa setitik kecintaan kepada dunia.” Pernyataan keras ini menunjukkan bahwa kejernihan menuntut pengosongan total.

Metafora “wajahmu yang sesungguhnya” dalam syair itu menarik perhatian. Dalam tafsir sufistik, wajah diri yang sejati bukanlah fisik atau ego, melainkan ruh yang merupakan tiupan Ilahi. Al-Qur’an surat al-Hijr ayat 29 menyebutkan bahwa setelah Allah menyempurnakan penciptaan manusia, Dia meniupkan roh-Nya. Maka, mengenal diri—sebagaimana sabda Nabi Muhammad, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya)—adalah pintu pertama menuju Tuhan.

Namun, bagaimana cara mencapai kejernihan itu? Jawaban para sufi: dengan riyadhah (latihan jiwa), dzikir kontinu, dan kesungguhan meninggalkan kebiasaan yang melalaikan. Bukan berarti menjadi pertapa, tetapi menjaga hati agar tidak terus-menerus terseret arus dunia.

Kesunyian: Mendengar Bisikan Langit

Bait kedua: ”Pada kesunyian engkau akan mendengar suara yang sesungguhnya.”

Kesunyian di sini bukan sekadar diam tanpa suara. Dalam terminologi sufi, kesunyian adalah samt—menahan lidah dari perkataan yang tidak berguna, sekaligus menyepi dari keramaian yang melenakan. Al-Ghazali dalam Ihya’ menyisipkan satu bab khusus tentang adab diam. Beliau mengutip perkataan sahabat Abdullah bin Mas’ud: “Diam itu ibadah yang paling berat, namun paling besar pahalanya.”

Di tengah kebisingan modern—dering ponsel, banjir informasi, gosip media sosial—kesunyian menjadi barang langka. Padahal, menurut para sufi, hanya dalam kesunyian hati mampu menangkap “suara yang sesungguhnya”, yakni khitab ilahi (dialog ilahi) yang datang tanpa perantara.

Al-Suyuthi dalam Jami’ul Ushul meriwayatkan sebuah atsar dari seorang sufi terkemuka: “Barangsiapa yang diam dalam kesunyian dengan niat yang benar, Allah akan mengajarinya ilmu laduni.” Ilmu laduni adalah pengetahuan yang dianugerahkan langsung oleh Tuhan tanpa proses belajar biasa. Inilah yang dimiliki Nabi Khidir dalam kisahnya bersama Nabi Musa.

Kesunyian juga menjadi pintu masuk samā’—mendengar secara spiritual. Bukan mendengar musik atau suara fisik, melainkan mendengar getaran ruhani yang membuat hati bergetar. Al-Qusyairi dalam Risalah-nya menjelaskan bahwa samā’ yang hakiki adalah ketika seorang hamba mendengar firman Tuhan dalam kedalaman hatinya, setelah semua suara dunia meredam.

Kesepian: Api Kerinduan yang Membakar

Bait ketiga: *Pada kesepian engkau akan merasakan kerinduan yang sesungguhnya.”

Kesepian yang dimaksud bukanlah kesepian fisik karena ditinggal teman atau keluarga. Ini adalah al-wahdah—kesepian spiritual di mana hati hanya bersama Tuhan, tidak tersibukkan oleh makhluk. Para sufi menyebutnya al-fardaniyyah: kondisi ketika seseorang merasa sendirian bersama Allah, meskipun berada di tengah keramaian.

Kerinduan (al-syauq) adalah api yang membakar hati sehingga melumerkan segala kecintaan selain kepada Tuhan. Al-Suyuthi dalam Jami’ul Ushul mengutip perkataan Rabi’ah al-Adawiyyah, sufi wanita legendaris dari Bashra: “Kerinduan adalah api yang membakar hati sehingga tidak ada yang tersisa kecuali Yang Dirindukan.”

Rabi’ah terkenal dengan ungkapan cintanya yang murni kepada Tuhan. Suatu ketika ditanya apakah dia membenci setan, ia menjawab, “Cintaku kepada Allah tidak menyisakan tempat untuk membenci siapa pun.” Kerinduan yang sesungguhnya membuat seorang hamba tidak lagi memedulikan surga atau neraka; yang ia inginkan hanyalah bertemu dengan Yang Dicintai.

Ibn Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah menjelaskan bahwa kerinduan adalah buah dari cinta (mahabbah). Ia adalah gerak jiwa menuju sumbernya. Ketika kerinduan mencapai puncak, seorang sufi tidak lagi merasakan sakitnya perpisahan, karena ia telah menyadari bahwa tiada yang terpisah dari-Nya.

Kesepian dalam syair ini juga terkait dengan konsep ‘uzlah (menyendiri). Al-Ghazali membedakan ‘uzlah fisik dan ‘uzlah hati. Menyendiri secara fisik bisa dilakukan dengan mencari tempat sunyi, namun yang lebih penting adalah menyendiri dalam hati: tidak bergantung pada pujian atau celaan manusia, hanya berharap kepada Allah.

Cahaya: Warna Sejati di Balik Bayang

Bait keempat: ”Pada cahaya yang terang engkau akan melihat warna yang sesungguhnya.”

Cahaya adalah simbol paling kuat dalam tasawuf. Al-Qur’an sendiri menyebut Allah sebagai nur al-samawati wa al-ard (cahaya langit dan bumi). Al-Ghazali dalam Misykat al-Anwar menguraikan secara mendalam bahwa segala cahaya yang tampak di alam semesta hanyalah bayang dari Cahaya Hakiki.

“Warna yang sesungguhnya” dalam bait ini merujuk pada hakikat segala sesuatu. Tanpa cahaya, kita hanya melihat bentuk lahiriah. Dengan cahaya ilahi yang menerangi hati, seorang sufi mampu melihat esensi di balik bentuk. Ibn Arabi menyebut ini sebagai ‘ain al-tsabitah—hakikat-hakikat abadi yang telah ditetapkan dalam ilmu Tuhan.

Dalam Jami’ul Ushul, al-Suyuthi meriwayatkan hadis qudsi: “Allah berfirman: Aku adalah cahaya. Barangsiapa menghendaki Aku, maka datangilah cahaya-Ku.” Hadis ini mengisyaratkan bahwa perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan menuju cahaya, dan cahaya itu sendiri yang akan menunjukkan jalan.

Para sufi meyakini bahwa ada tingkatan-tingkatan cahaya. Pertama, cahaya iman yang menerangi hati dari kegelapan kekafiran. Kedua, cahaya makrifat yang menerangi pemahaman tentang sifat-sifat Tuhan. Ketiga, cahaya syuhud (penyaksian) yang membuat seorang hamba “melihat” Tuhan dalam segala sesuatu, bukan berarti Tuhan menyatu dengan makhluk, melainkan melihat bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari kekuasaan dan kehendak-Nya.

Inilah yang disebut tajalli: terbukanya tabir sehingga hati merasakan kehadiran Tuhan secara langsung. Seorang sufi yang telah mencapai tajalli tidak lagi ragu, karena ia telah menyaksikan kebenaran dengan mata hatinya.

Keheningan: Fana dalam Wujud Sejati

Bait kelima: ”Pada keheningan engkau akan melihat wujud yang sesungguhnya.”

Keheningan di sini adalah puncak dari segala maqam. Bukan sekadar diam, tetapi keheningan total dari segala aktivitas indrawi dan akal. Para sufi menyebutnya sukr (mabuk cinta) atau jadhbah (ketertarikan ilahi). Dalam kondisi ini, kesadaran akan diri sendiri lenyap, yang tersisa hanya kesadaran akan Tuhan.

“Wujud yang sesungguhnya” (al-wujud al-haqq) adalah wujud Tuhan yang Maha Esa. Inilah konsep yang paling kontroversial dalam tasawuf, terutama yang dikembangkan oleh Ibn Arabi dengan istilah wahdat al-wujud (kesatuan wujud). Namun perlu dipahami bahwa wahdat al-wujud tidak berarti panteisme (Tuhan menjadi makhluk), melainkan keyakinan bahwa tidak ada wujud yang hakiki selain wujud Tuhan, dan wujud makhluk adalah majazi (metaforis) yang bergantung sepenuhnya pada Sang Pencipta.

Dalam Fushush al-Hikam, Ibn Arabi menjelaskan bahwa seluruh realitas adalah tajalli (manifestasi) dari nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Ibarat cermin yang memantulkan satu wajah, namun pantulan itu bukanlah wajah itu sendiri. Demikian pula alam semesta: ia adalah pantulan dari wujud Tuhan, tetapi tidak identik dengan Tuhan.

Al-Suyuthi dalam Jami’ul Ushul meriwayatkan perkataan Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi Persia yang dikenal dengan ungkapan-ungkapan ekstatisnya: “Aku keluar dari diriku sebagaimana ular keluar dari kulitnya, lalu aku melihat bahwa Aku adalah Dia.” Pernyataan ini sering disalahpahami. Abu Yazid sendiri menjelaskan bahwa itu adalah ungkapan fana’—saat dirinya lenyap sehingga yang tampak hanyalah kehendak Tuhan.

Keheningan juga terkait dengan shath (ucapan-ucapan ekstatis) yang sering diucapkan para sufi dalam kondisi sakr. Ucapan al-Hallaj “Ana al-Haqq” (Akulah Yang Maha Benar) adalah contoh paling terkenal. Al-Qusyairi dalam Risalah-nya memperingatkan agar ucapan-ucapan seperti itu tidak dipahami secara harfiah, tetapi sebagai ungkapan spiritual yang muncul dari mabuk cinta ilahi. Setelah sadar, seorang sufi tetap menjalankan syariat dengan sempurna.

Jami’ul Ushul: Kompas Spiritual yang Tak Lekang

Kitab Jami’ul Ushul fi al-Awliya karya Imam al-Suyuthi menjadi rujukan penting dalam memahami syair ini. Al-Suyuthi—ulama besar yang hidup pada abad ke-15 M—mengumpulkan dalam kitabnya hadis-hadis qudsi dan perkataan para wali tentang berbagai kondisi spiritual. Kitab ini ibarat kompas bagi para penempuh jalan sufi.

Beberapa tema dalam Jami’ul Ushul yang relevan dengan syair:

Pertama, tentang takhalli dan tahalli. Al-Suyuthi meriwayatkan bahwa para wali sepakat: langkah awal adalah membersihkan hati dari sifat buruk (takhalli), kemudian menghiasinya dengan sifat terpuji (tahalli), dan akhirnya menyaksikan kehadiran Tuhan (tajalli). Urutan ini sejalan dengan bait-bait syair: kejernihan (takhalli), kesunyian dan kesepian (tahalli), cahaya dan keheningan (tajalli).

Kedua, tentang ma’rifatullah. Al-Suyuthi mengutip perkataan Dzun Nun al-Mishri: “Ma’rifatullah adalah ketika engkau mengetahui bahwa Allah adalah Yang Mengatur segala sesuatu, dan engkau menyaksikan-Nya dalam segala sesuatu.” Ini menegaskan bahwa ma’rifat bukan sekadar teori, tetapi penyaksian langsung.

Ketiga, tentang mahabbah dan syauq. Dalam satu hadis qudsi yang diriwayatkan al-Suyuthi, Allah berfirman: “Barangsiapa yang mencintai-Ku, Aku akan mencintainya. Dan barangsiapa yang Aku cintai, Aku akan menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya.” Hadis ini menggambarkan baqa’ billah—kekal bersama Tuhan setelah fana—yang merupakan wujud dari “melihat wujud yang sesungguhnya”.

Dari Syair ke Jalan Hidup

Syair yang dianalisis ini bukan sekadar puisi indah yang dibaca lalu dilupakan. Ia adalah peta perjalanan ruhani yang telah ditempuh oleh ribuan sufi selama berabad-abad. Setiap bait mewakili maqam—stasiun spiritual—yang harus dilalui dengan kesungguhan dan kesabaran.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan bising, ajakan untuk hidup dalam kejernihan, kesunyian, kesepian, cahaya, dan keheningan terasa seperti sesuatu yang asing. Padahal, justru di tengah hiruk-pikuk itulah manusia modern kehilangan kontak dengan dirinya yang terdalam. Banyak orang mengalami kehampaan, kecemasan, dan depresi karena tidak pernah memberi ruang bagi jiwanya untuk berhenti sejenak.

Para sufi mengajarkan bahwa mengenal Tuhan tidak memerlukan pergi ke gunung atau tinggal di gua. Yang diperlukan adalah kesadaran untuk menjaga hati tetap jernih di tengah segala aktivitas. Diam dari perkataan sia-sia, menyendiri sejenak dari gawai, merasakan kerinduan akan makna hidup, membiarkan cahaya kebenaran masuk, dan pada akhirnya merasakan keheningan yang membawa pada ketenangan sejati.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Al-Ghunyah pernah berkata, “Barangsiapa yang ingin berbicara dengan Tuhannya, hendaklah ia membaca Al-Qur’an. Barangsiapa yang ingin mendengar bicara Tuhannya, hendaklah ia diam.” Diam yang dimaksud adalah diamnya hati dari segala selain Allah, sehingga ia mampu mendengar firman yang tak terucapkan.

Mungkin itulah pesan terdalam dari syair yang kita renungkan bersama. Dalam kejernihan, kita menemukan diri. Dalam kesunyian, kita mendengar panggilan. Dalam kesepian, kita merindukan Yang Tak Terbatas. Dalam cahaya, kita melihat hakikat. Dalam keheningan, kita menyatu dalam wujud sejati.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Exit mobile version