Umum  

MALaNGKUCeCEWARA DIANTARA FASTABUL QOIROT

Oleh : Gagoek INAKER

Diantara bunga anggrek putih dan serta tetap trus tersenyum walau daun anggrek dijangkiti bakteri jahat tsb (Rajajowas,o6o22025)

Monwnews.com, Fastabiqul Khoirot berarti “berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan” atau berebutlah mencari kebaikan, prinsip Al-Qur’an dari Surah Al-Baqarah (2:148) yang mendorong kebaikan proaktif dan gemarlah berbuat amal shaleh.

Malangkucecwara adalah semboyannya ketika itu , artinya “Tuhan memusnahkan kebohongan“, dari kata mala (bohong), angkuca (memusnahkan), dan icwara (Tuhan).

Frasa “Fastabul qoirot diantara malangkucecwara” (kemungkinan Fastabiqul khoirot diantara Malangkucecwara ) secara puitis mengajak bersegera berbuat baik di tengah semangat Malang maupun Nusantara ataupun Dunia dalam masa-masa ketidakpastian yang disarankan menegakkan kebenaran atas kebatilan cocok bagi seluruh Rakyat Nusantara maupun penyelenggara Negaranya untuk menghayati dalam kehidupan sehari-hari.

TIMBUL DAN SERTA TENGGELAM PoLITIK KEKUASAAN

Adapun ketika itu Kerajaan Dinoyo adalah pusat Kerajaan Kanjuruhan kuno di Malang pada abad ke-8 Masehi, dengan Prasasti Dinoyo (tahun 760 M/682 Saka) sebagai bukti utama yang ditemukan di Kelurahan Dinoyo, Lowokwaru.

Prasasti itu, berhuruf Jawa Kuno dan Sanskerta, dicatat oleh Mpu Sindok dan menceritakan Raja Dewa Simha (atau Dewasimha) yang memerintah makmur, mendirikan pemujaan Dewa Siwa via Arca Maharsi Agastya di Candi Badut.

Malangkucecwara tidak secara eksplisit disebut dalam prasasti atau catatan era Kerajaan Dinoyo antara lain sebagai semboyan modern oleh Walikota Sutiaji di Kota Malang ini kemungkinan berasal dari interpretasi kemudian terhadap nilai kebenaran dan kehancuran kebatilan, yang selaras dengan semangat kerajaan bercorak perilaku Hindu kala itu.

Raja Gajayana, juga dikenal sebagai Limwa atau Gajayanalingga Jagatnata, adalah Raja Kerajaan Kanjuruhan (Keling) yang memerintah selama 29 tahun dari 760 hingga 789 Masehi.

Beliau menggantikan ayahnya, Dewasimha, dan membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan melalui kepemimpinan bijaksana, tegas, serta peduli Rakyat, sehingga tercipta stabilitas sosial, ekonomi, dan kemajuan budaya beserta karya-karya berkeseniannya.

Pencapaian Utama adalah sbb ;
~Memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Kanjuruhan setelah menikahi Dewi Setrawati, putri pribumi setempat.

~Mendirikan tempat pemujaan Resi Agastya di Candi Badut dengan arca batu hitam yang indah, diresmikan tahun 760 M oleh pendeta Weda.

~Mempererat hubungan dengan Kerajaan Mataram Kuno melalui pernikahan putrinya (Satya Dharmika atau Uttejana) dengan Rakai Panangkaran, yang mempersatukan kedua kerajaan pasca wafatnya.

Fastabiqul Khoirot (berlomba-lombalah dalam kebaikan) diturunkan dalam Surah Al-Baqarah (2:148) pada periode Madinah awal (sekitar 2-3 Hijriah/624 M), saat Nabi Muhammad SAW sudah hijrah ke Madinah dan membangun masyarakat Islam.

Konteks Sejarah dimana Ayat ini turun bersamaan dengan perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, mendorong umat berlomba kebaikan seperti sholat tepat waktu dan amal shaleh, di tengah perkembangan Islam yang pesat pasca Perang Badar bukan masa kerasulan di Makkah sebelum hijrah.

Hubungan dengan Malang Kuno yang pada masa Kerajaan Dinoyo/Kanjuruhan (abad 8 M, era Raja Gajayana), konsep serupa kebaikan dan kebenaran sudah ada dalam tradisi Hindu-Siwa, selaras dengan semangat Malangkucecwara, meski Fastabiqul Khoirot baru masuk via penyebaran Islam berabad-abad kemudian.

“JANGAN CEPAT KAGETAN DAN SERTA GAMPANG KEHERANAN”

Malangkucecwara menjadi semboyan resmi ketika itu khususnya bagi Kota Malang sejak HUT ke-50 Kotapraja Malang pada 1 April 1964, saat Indonesia berusia 19 tahun pasca-kemerdekaan 1945 menggambarkan semangat Orde Lama dalam menegakkan kebenaran nasional melawan kolonialisme.

Fastabiqul Khoirot (atau “Fastabul Qoirot”) sebagai ajaran Islam berlomba kebaikan, relevan dengan semangat kemerdekaan melalui giat-giatnya nilai saling menggotong maupun meroyong dan serta pembangunan nasional, yang selaras dengan Tri Bina Cita Malang (pendidikan, pariwisata, industri) pasca-1962.

Pada 80 tahun kemerdekaan RI (2025), frasa gabungan ini mencerminkan kondisi Malang modern khususnya dan Indonesia pada umumnya dimana hal itu tetap relevan sebagai pengingat berlomba amal shaleh di tengah ethos “Tuhan pasti Hancurkan Kebatilan“, mendukung visi kota pelajar dan wisata yang inklusif, meski ada perdebatan makna kuno dari prasasti abad 9 maupun keberadaan dierra Republik Indonesia.

#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🤝👍✊🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *