Umum  

M I T O N I Bayi

Oleh: mBah Kuntjir INAKER.

Monwnews.com, Kajian mengenai ritual Mitoni dapat dibedah melalui tiga pilar utama filsafat, yaitu ontologi (hakikat), epistemologi  (sumber pengetahuan), dan serta aksiologi (tujuan dan atau nilai).

Ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan manifestasi filosofis kemajuan kebudayaan masyarakat dalam menyambut kehidupan baru.

Ringkasan Utama
Mitoni secara filosofis merupakan bentuk permohonan dan doa-doa kepada Tuhannya keselamatan yang berakar pada hakikat keberadaan manusia ( ontologi ), diturunkan melalui tradisi lisan dan serta teks kuno ( epistemologi ), serta bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai adab , moral dan etika bagi orang tua dan serta calon bayi ( aksiologi ).

Analisis Filsafat Ritual Mitoni dalam Kajian Ontologis ( Hakikat Keberadaan ) mempertanyakan tentang Mitoni.

Secara hakikat, Mitoni adalah ritual peralihan ( rites of passage ) yang menandai tahap awal keberadaan manusia sebagai entitas yang utuh di dalam rahim ( usia tujuh bulan ).

Dalam pandangan komunitasnya, pada usia ini janin dianggap telah memiliki jiwa yang sempurna.

Secara ontologis, ritual ini menegaskan hubungan antara manusia ( mikrokosmos ) dengan Tuhan dan alam semesta ( makrokosmos ), dimana bayi dipandang sebagai anugerah sekaligus amanah suci.

Kajian Epistemologis ( Asal-Usul Pengetahuan ) meninjau bagaimana pengetahuan tentang Mitoni diperoleh dan serta dibenarkan dilestarikan.

Pengetahuan tentang tata cara Mitoni seperti siraman, ganti busana tujuh kali, hingga membelah kelapa gading bersumber dari kearifan lokal ( local wisdom ) yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan dan praktik nyata.

Pengetahuan ini juga bersandar pada simbolisme ( semiotika ) komunitas cerdas dimana setiap alat upacara memiliki makna kognitif yang mengajarkan tentang asal-usul kehidupan dan cara menjalani hidup dengan benar sesuai norma adat kebudayaan.

Kajian Aksiologis ( Nilai dan Kegunaan ) dimana membahas tentang untuk apa ritual ini dilakukan dipertahankan.

Nilai utama dalam Mitoni adalah nilai etis dan estetis. Secara etis, ritual ini berfungsi sebagai doa dan harapan agar calon bayi memiliki watak yang baik ( berbakti, jujur, dan bijaksana ).

Secara sosial, Mitoni mempererat hubungan persaudaraan melalui pembagian sedekah ( makanan).

Nilai aksiologisnya terletak pada pembentukan karakter orang tua agar lebih mawas diri dan bersiap secara mental serta spiritual dalam mendidik anak.

Simbolisme dan Makna
dalam pelaksanaannya, penggunaan tujuh jenis kain batik memiliki makna aksiologis berupa harapan akan kemuliaan hidup.

JANGAN CEPAT KAGETAN, JANGAN CEPAT KEHERANAN

Sementara itu, kelapa gading yang digambar tokoh Wayang ( seperti Kamajaya dan Ratih ) menjadi simbol ontologis dari sosok manusia ideal yang diharapkan menjadi prototipe bagi sang bayi dimasa depannya.

Dalam konteks tradisi kecerdasaan spiritual Mitoni, pemilihan corak batik bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian dari epistemologi simbolik masyarakat untuk menyampaikan doa dan harapan bagi sang ibu dan serta calon bayi.

Ringkasan Utama
Penggunaan tujuh jenis corak batik dalam Mitoni melambangkan kesempurnaan dan harapan agar bayi memiliki martabat tinggi ( Parang ), cinta kasih yang tulus ( Truntum ), hingga keseimbangan hidup ( Kawung ).

Batik Parang (Parang Kusumo) dalam corak ini wajib digunakan sebagai simbol kekuatan, ketangguhan, dan kemuliaan.

Secara ontologis, Parang melambangkan keberlanjutan hidup yang tak terputus, seperti ombak samudera yang kuat.

Batik Truntum sering digunakan sebagai corak pertama atau terakhir.

Maknanya adalah cinta yang bersemi kembali atau ketulusan cinta orang tua yang akan menuntun jalan hidup sang anak.

Batik Kawung melambangkan kesucian, pengendalian diri, dan hati yang bersih.

Corak geometrisnya menyerupai buah kolang-kaling yang tertata rapi, menyiratkan harapan agar sianak memiliki keteraturan hidup dan integritas.

Batik Sogan bermotif klasik dengan warna dominan cokelat tanah ( kayu soga ) yang melambangkan kerendahan hati dan kedekatan manusia dengan alam (bumi).

Batik Sidomukti atau Sidoluhur dimana kata Sido berarti proses menjadi dan atau terwujud.

Penggunaan corak ini adalah doa aksiologis agar sang anak kelak menjadi orang yang hidupnya berkecukupan ( mukti ) atau memiliki budi pekerti yang luhur.

Adapun Prosesi Ganti Busana dalam praktik epistemologisnya, calon ibu akan berganti kain sebanyak tujuh kali.

Setiap kali kain dicoba, tamu akan berseru belum pantas hingga pada kain ketujuh ( biasanya motif yang paling sederhana atau lurik ) barulah dijawab pantas.

Hal Ini melambangkan bahwa manusia tidak boleh mengutamakan kemewahan duniawi, melainkan harus mengutamakan kesederhanaan dan kebaikan hati.

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang berkumpul dan serta bersolusi bergerak bergerak bergerak bersinergi bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama-sama dengan akal nalar pikir ilmu dan derajad keimanan dan serta jangan lupa bahagia sesuai cara dan serta gaya sahaja.

#salamsatujiwa
salamnegaraagungbekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🤝✊💪🥰
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨

Exit mobile version