Umum  

Ketika Negara Lebih Percaya Angka daripada Warganya

Retargeting PBI dan perubahan ideologi perlindungan sosial

Eko Muhammad Ridwan, Ketua Umum RRI - Ranggah Rajasa Indonesia
Eko Muhammad Ridwan, Ketua Umum RRI - Ranggah Rajasa Indonesia

Oleh: Eko Muhammad Ridwan – Ketua RRI Ranggah Rajasa Indonesia

Monwnews.com, Penonaktifan dan retargeting peserta PBI menunjukkan keberanian pemerintah menata disiplin fiskal dan merawat kredibilitas di mata pengawas keuangan. Namun di balik presisi itu tersembunyi pertanyaan yang lebih mendasar: ketika status perlindungan ditentukan oleh parameter yang terus bergerak, apakah warga yang paling rentan masih merasakan negara hadir sebagai penopang, atau justru sebagai pemeriksa yang meminta pembuktian ulang pada saat mereka sedang tidak punya waktu untuk menunggu.

Negara sedang belajar menjadi presisi. Ia ingin tahu persis siapa menerima apa. Ia ingin memastikan subsidi tidak salah alamat. Ia ingin dapat menjelaskan setiap rupiah kepada parlemen, auditor, dan pasar keuangan yang memandang dari kejauhan dengan mata penuh kalkulasi.

Di zaman ini, ketepatan adalah kehormatan. Maka retargeting peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan tampil sebagai tanda kemajuan. Daftar diperbarui. Kriteria diperketat. Mereka yang dianggap tak lagi memenuhi syarat dikeluarkan, diganti oleh yang lebih sesuai. Anggaran terkendali. Sistem tampak rasional.

Di ruang kebijakan, ini kemenangan.

Tetapi kebijakan sosial punya satu kebiasaan yang sering mengganggu rasa nyaman para perancangnya: ia hidup bukan di dokumen, melainkan di tubuh manusia.

Di tubuh itulah ideologi diuji

Ketika seseorang datang berobat dan menemukan statusnya berubah, ia tidak sedang berdialog dengan teori fiskal. Ia tidak sedang berdebat tentang keberlanjutan anggaran.

Ia berhadapan dengan satu pertanyaan: apakah negara masih mengenal saya sebagai orang yang harus dilindungi?

Pertanyaan ini jauh lebih tua daripada sistem informasi. Ia menyentuh fondasi hubungan antara negara dan warga.

Pergeseran yang pelan tapi mendasar

Dalam sejarah jaminan sosial, negara biasanya memulai dari rasa takut: jangan sampai ada warga yang jatuh tanpa penopang.

Ketakutan itu melahirkan inklusi.

Namun seiring sistem membesar dan biaya meningkat, muncul ketakutan baru: jangan sampai subsidi tak terkendali, jangan sampai reputasi fiskal diragukan, jangan sampai dianggap boros.

Ketakutan kedua ini melahirkan penyaringan.

Retargeting berada tepat di tengah pergeseran itu.

Negara yang diawasi

Kita hidup dalam dunia di mana kebijakan domestik selalu memiliki penonton eksternal. Defisit dibaca. Belanja diperbandingkan. Reformasi dinilai.

Dalam panggung seperti ini, negara didorong untuk menunjukkan ketertiban. Semakin rapi data, semakin kuat pesan bahwa pemerintah memegang kendali.

Ini bukan sekadar kebutuhan teknis. Ini bahasa legitimasi modern.

Tetapi legitimasi punya dua sumber

Satu datang dari laporan. Satu datang dari pengalaman.

Yang pertama berbicara kepada pasar dan pengawas. Yang kedua berbicara kepada warga.

Kebijakan yang terlalu sibuk merawat yang pertama berisiko kehilangan yang kedua.

Ketika bantuan berubah menjadi pembuktian

Retargeting membawa satu pesan yang terasa makin kuat: untuk dilindungi, seseorang harus sesuai dengan data. Ini masuk akal secara administratif.

Tetapi secara ideologis, ada perubahan halus. Perlindungan tidak lagi semata-mata tentang kebutuhan, melainkan tentang kecocokan dengan parameter.

Negara tetap membantu, tetapi dengan syarat semakin jelas.

Parameter tidak pernah sempurna

Kehidupan bergerak lebih cepat daripada pembaruan data. Orang bisa kehilangan penghasilan tiba-tiba. Penyakit datang sebelum sistem mencatat perubahan.

Dalam ruang seperti ini, selalu ada kemungkinan seseorang berada di sisi yang salah dari keputusan administratif.

Dan ketika itu terjadi, pengalaman yang muncul bukanlah modernitas, melainkan keterasingan.

Rasionalitas yang bertabrakan

Bagi birokrasi, mengikuti data adalah cara paling aman. Ia dapat dipertanggungjawabkan. Ia melindungi institusi. Bagi warga, perlindungan adalah soal kehadiran, bukan justifikasi.

Dua rasionalitas ini tidak selalu bertemu.

Risiko yang tak dihapus, hanya dipindah

Dengan retargeting, risiko fiskal berkurang di pusat. Namun ketidakpastian muncul di tempat lain: di keluarga yang harus mencari jalan, di rumah sakit yang menghadapi dilema pelayanan, di kantor sosial daerah yang menerima keluhan.

Sistem menjadi lebih rapi. Pengalaman bisa menjadi lebih rumit.

Negara modern memang harus disiplin

Tidak ada yang meragukan itu. Tanpa disiplin, jaminan sosial tak akan bertahan. Namun jika disiplin membuat warga merasa selalu harus memeriksa apakah dirinya masih diakui, maka perlindungan berubah makna.

Ia tidak lagi terasa sebagai hak, melainkan status yang sewaktu-waktu bisa bergeser.

Di sinilah inti ideologinya

Apakah negara pertama-tama ingin diyakinkan oleh angka, atau oleh rasa aman warganya?

Idealnya keduanya.

Namun dalam praktik, tekanan sering membuat prioritas tak seimbang.

Mengapa ini penting

Karena jaminan sosial hidup dari kepercayaan. Tanpa kepercayaan, dukungan publik melemah, kepatuhan menurun, dan program menjadi rapuh.

Membangun kepercayaan membutuhkan waktu panjang. Menguranginya bisa terjadi dalam satu pengalaman buruk.

Apa yang menentukan masa depan

Bukan hanya seberapa tepat sistem menyaring. Tetapi seberapa cepat ia mengakui jika ternyata keliru.

Tanpa kemampuan itu, presisi akan terasa seperti jarak.

Penutup

Retargeting mungkin membuat negara tampak lebih modern, lebih cermat, lebih terkendali. Namun bagi warga, pertanyaan akhirnya jauh lebih sederhana: ketika mereka datang dalam keadaan lemah, apakah negara hadir tanpa mereka harus membuktikan diri lagi.

Jika jawabannya ya, maka reformasi ini akan dikenang sebagai kemajuan.

Jika tidak, maka yang tumbuh bukan hanya ketepatan data.

Melainkan jarak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *