Hari Anak Nasional 2026: FPA Suarakan Hak Anak via Seni di Surabaya

Pertunjukan kesenian anak Peringatan Hari Anak Nasional 2026 oleh Forum Pendidikan Alternatif Surabaya.
Pertunjukan tari kesenian anak Peringatan Hari Anak Nasional 2026 oleh Forum Pendidikan Alternatif Surabaya.

Monwnews.com, Surabaya – Ketika dunia semakin modern, ruang aman bagi anak justru menghadapi berbagai ancaman. Kekerasan fisik, kekerasan seksual, perundungan, hingga diskriminasi masih menjadi kenyataan yang dialami banyak anak Indonesia, termasuk di lingkungan yang semestinya menjadi tempat mereka tumbuh dan berkembang.

Momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak anak tidak bisa diwujudkan melalui lingkup keluarga semata. Anak juga berhak hidup di lingkungan yang aman, layak, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Data yang dipaparkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Surabaya, kekerasan pada anak terus meningkat. Pada tahun 2024, kasus perundungan tercatat sebanyak 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, di lembaga pendidikan Jawa Timur menduduki kasus tertinggi sebanyak 81 kasus yang terdiri dari kekerasan seksual, fisik, psikis, dan diskriminatif. Data lain juga menunjukkan peningkatan kasus bullying yang terjadi di Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada awal tahun 2024 mencapai 30% dari 141 kasus kekerasan pada anak.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekerasan terhadap anak masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Berbagai bentuk kekerasan—mulai dari kekerasan seksual, fisik, psikis, diskriminasi, hingga perundungan—masih ditemukan di lingkungan pendidikan maupun kehidupan sehari-hari anak. Fakta tersebut menjadi alarm bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Forum Pendidikan Alternatif (FPA) menggelar rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2026 bertema “Lingkungan yang Aman dan Layak bagi Anak”, sebagai ajakan kepada semula elemen masyarakat untuk membangun budaya perlindungan anak secara kolektif yang dimulai dari keluarga, sekolah, kampung, hingga ruang publik.

Forum Pendidikan Alternatif merupakan jejaring komunitas pendidikan alternatif di Surabaya yang terdiri atas Pelita Insan Pembelajar (Pijar), Sanggar Merah Merdeka, Sanggar Alang-Alang, Dharma Putra Swadaya, Karya Kasih Putra, Novaloka, dan Almakarya. Selama ini komunitas-komunitas tersebut mendampingi anak-anak di kawasan padat penduduk melalui kegiatan belajar, literasi, seni, penguatan karakter, dan pemberdayaan masyarakat.

Pendampingan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik anak, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang menghargai martabat, kreativitas, dan hak-haknya.

Ketua Pelaksana Hari Anak Nasional 2026, Mahrawi, menegaskan bahwa peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi ruang refleksi sekaligus gerakan bersama.

” jadikan Hari Anak Nasional lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ini adalah momentum untuk menjaga hak anak, memberi ruang bagi mereka untuk bersuara, berekspresi, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman. Masa depan bangsa ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan anak-anak hari ini tanpa membedakan layar belakang sosial-ekonominya”.

Mahrawi juga berharap FPA dan kegiatan peringatan hari anak dapat menjadi ruang ekpresi bagi anak-anak, mengajak semua masyarakat untuk peduli terhadap anak-anak dan terjadi perubahan yang mendasar.

Sepekan setelah menggelar Talkshow sebagai rangkaian pertama, puncak rangkaian Hari Anak Nasional diselenggarakan melalui Pentas Seni KILAU MANIA (Lingkungan Kita Layak Juga Aman bagi Anak) pada Sabtu, 25 Juli 2026, di Gedung Pertemuan Widya Kartika, Surabaya. Kegiatan tersebut melibatkan ratusan anak dari berbagai komunitas pendidikan alternatif melalui pertunjukan seni, pawai suara anak, pameran karya visual, zona kreativitas, dan deklarasi suara anak sebagai ruang bagi mereka untuk menyampaikan harapan tentang lingkungan yang aman dan ramah anak.

Pada pentas seni Kilau Mania anak-anak dari berbagai sanggar dan kelompok belajar yang tergabung dalam FPA menampilkan berbagai pertunjukan seperti gerak dan lagu, drama musikal, dan ludruk dengan sub tema masing-masing yaitu Pijar dengan tema Lingkungan Bermain, Sanggar Merah Merdeka Lingkungan Sekolah, Alang-alang Lingkungan Dunia Maya, LKD Lingkungan Masyarakat, dan Novaloka Lingkungan Keluarga.

Kegiatan yang dihadiri sekitar tiga ratusan pengunjung dari berbagai elemen masyarakat yang terdiri dari orang tua anak-anak sanggar, komunitas peduli anak, mahasiswa, akademisi, pegiat literasi, aktivis sosial, dan Komisi Perlindungan Anak Surabaya diakhiri dengan pembacaan deklarasi Suara Anak dan ditutup dengan flashmob yang diikuti semua peserta yang hadir.

Bagi Forum Pendidikan Alternatif, suara anak bukan sekadar pelengkap dalam sebuah perayaan, melainkan fondasi dalam membangun kebijakan dan lingkungan yang berpihak kepada mereka. Ketika anak diberi ruang untuk didengar, dihargai, dan dilibatkan, masyarakat sedang menanam fondasi bagi masa depan yang lebih adil, aman, dan manusiawi.

Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh tanpa rasa takut. Mewujudkan lingkungan yang aman bukan hanya tugas orang tua atau sekolah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga negara. Sebab, kualitas masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas perlindungan yang diberikan kepada anak-anak hari ini.

Tentang Forum Pendidikan Alternatif (FPA)

Forum Pendidikan Alternatif (FPA) merupakan jejaring komunitas pendidikan alternatif di Kota Surabaya yang beranggotakan sanggar belajar, rumah belajar, dan komunitas yang mendampingi anak-anak di kawasan perkotaan.

FPA mendorong lahirnya ruang belajar yang inklusif, aman, partisipatif, dan berbasis komunitas, sekaligus menguatkan kolaborasi lintas organisasi dalam memperjuangkan hak atas pendidikan dan lingkungan yang aman dan layak.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *