Monwnews.com, Dari kecil hingga tua, kita diajarkan tentang kasih sayang oleh keluarga dan agama. Literatur dan pendidikan mengajarkan kita tentang demokrasi, HAM, perekonomian untuk kemakmuran bersama, hukum untuk menegakkan keadilan serta budaya yang mengedepankan kebaikan-kebaikan.
Tapi sepanjang hidup kita, kita justru dihadapkan pada kenyataan yang berkebalikan dari apa yang diajarkan kepada kita.
Penindasan kekuasaan, perekonomian yang menjadi sarana keserakahan, hukum sebagai alat pembungkaman, teknologi menjadi alat pembantaian juga alat untuk memperbudak manusia dsb.
Rasanya ada yang salah dengan sistem dunia.
Sebuah sistem dunia ciptaan manusia yang kini menjadi penjara besi yang memenjarakan manusia itu sendiri, begitu kata Max Weber.
Manusia kini sudah tidak lagi berorientasi pada To Be (Being), tapi lebih berorientasi pada To Have ( Having), begitu kata Erich Fromm.
Dan kebenaran serta kebaikan hanya menjadi kedok yang dijadikan alat manusia seolah-olah baik dan benar, begitu kata Jean Baudrillard dengan Simulacra (realitas semu, realitas simulasi).
Gilanya, itu semua dilakukan oleh mereka yang sekolahnya tinggi, berduit dan berkedudukan (memiliki jabatan).
Nampaknya harus ada orang yang berani mengembalikan kehidupan kembali kepada harmoni kehidupan juga nurani kemanusiaan.
POTONG SATU GENERASI.
(Ismail Arif)












