Monwnews.com, Peta politik dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan antar negara, perang kepentingan, hingga tarik menarik ekonomi global kini tak lagi sekadar isu diplomasi. Dampaknya mulai terasa hingga ke aktivitas ekonomi sehari-hari.
Hal ini mengemuka dalam diskusi antara Ketua Kadin Jawa Timur, H. Adik Dwi Putranto, S.H., M.HP., dan alumni GMNI Surabaya, Arvian Fahmi Kusuma, S.H. Keduanya sepakat, geopolitik hari ini bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga soal daya tahan ekonomi.
Arvian menilai, konflik global dan persaingan antar negara besar telah mengubah pola kerja ekonomi dunia. Rantai pasok yang sebelumnya stabil kini menjadi lebih rentan terganggu.
Akibatnya, harga bahan baku cenderung naik, distribusi tersendat, dan pelaku usaha harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi.
“Ketika politik global memanas, ekonomi pasti ikut bergetar. Ini bukan teori, tapi realitas yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha,” ujarnya.
Senada dengan itu, Adik Dwi Putranto menegaskan bahwa dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar, tetapi juga menjalar hingga pelaku UMKM.
Menurutnya, gangguan pada distribusi dan hambatan impor akan langsung berdampak pada biaya produksi.
“Begitu jalur distribusi terganggu, efeknya cepat terasa. Biaya naik, dan itu menekan pelaku usaha di berbagai sektor,” jelasnya.
Meski demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya menghadirkan tekanan. Di balik ketidakstabilan global, terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan, khususnya oleh daerah dengan potensi kuat seperti Jawa Timur.
Ketika negara lain mengalami hambatan produksi akibat konflik atau kebijakan internal, Indonesia berpeluang mengisi kekosongan pasar sebagai alternatif pemasok.
Di titik ini, Arvian menekankan pentingnya perubahan cara pandang. Ia menilai pelaku usaha tidak cukup hanya bersikap reaktif, tetapi harus mampu membaca arah perubahan global.
“Dalam setiap krisis selalu ada pergeseran peluang. Pertanyaannya, siapa yang siap mengambil peran,” katanya.
Adik menambahkan, kunci menghadapi situasi ini terletak pada kemampuan beradaptasi. Penguatan pasar domestik dan perluasan akses ekspor menjadi langkah strategis yang perlu segera dilakukan.
Kadin Jawa Timur, lanjutnya, terus mendorong kolaborasi lintas sektor serta membuka peluang pasar melalui berbagai program, termasuk misi dagang dan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Diskusi ini mengerucut pada satu kesimpulan: meski geopolitik global berada di luar kendali daerah, strategi dalam merespons dampaknya sepenuhnya berada di tangan pelaku ekonomi.
Menutup diskusi, Arvian menyampaikan refleksi yang menegaskan pentingnya ketahanan dalam menghadapi situasi global.
“Dunia boleh tidak stabil, tapi respons kita tidak boleh ikut goyah. Di situlah letak daya saing kita,” tegasnya.












