Monwnews.com, Pasca 100 hari Pemerintahan Prabowo Gibran dari hari ke hari nampaknya situasi nasional selalu diliputi oleh berbagai macam permasalahan mulai dari kisruh gas 3kg, keterlibatan Menteri Desa dalam pemenangan istrinya di Pilkada, konflik kepentingan di Danantara yang berdampak pada anjloknya nilai IHSG di lantai bursa, maraknya PHK dimana-mana, dan yang terbaru adalah skandal BBM oplosan yang melibatkan perusahaan plat merah milik BUMN.

Hal ini tentu membuat publik semakin gusar ditengah situasi yang tak pasti, ujar Muhammad Sutisna selaku Co Founder Forum Infelektual Muda saat dihubungi awak media melalui sambungan seluler (Selasa, 04 Maret, 2025).
Menurut Sutisna bahkan akibat situasi yang tak pasti ini membuat sejumlah kalangan mulai dari masyarakat hingga mahasiswa kerap melakukan aksi protes di jalanan. Seperti aksi Indonesia gelap yang menjadi barometer bahwa negara kita sedang tidak baik-baik saja.
Bahkan yang terbaru, aksi yang dilakukan oleh PB PMII di depan kantor kementerian desa Senin 03 Maret 2025, menuntut agar menteri Desa Yandri Susanto mundur dari jabatannya karena telah terbukti melakukan cawe-cawe di Pilkada berdasarkan hasil keputusan MK yang membatalkan kemenangan Istrinya sebagai Bupati Serang.
Sehingga situasi yang tak pasti ini sangat berdampak pada jalannya roda pemerintahan yang hari ini cenderung mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat maupun pasar.
Melihat rupiah yang terus merosot hingga menuju 17ribu maupun anjloknya saham-saham perusahaan BUMN di lantai bursa.
Tentu menjadi warning tersendiri bagi pemerintah, apalagi kita sekarang dalam masa bulan suci Ramadan dan menjelang lebaran tentunya dibutuhkan kondisi sosial ekonomi maupun yang stabil. “Ungkap Sutisna”.
Menurut Sutisna yang merupakan alumni Sekolah Kajian Stratejik Global Universitas Indonesia ini mengatakan bila situasi sekarang tak bisa di mitigasi oleh Pemerintah, disinyalir Indonesia akan mengalami deflasi yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi, menurunkan investasi, dan meningkatnya pengangguran. Dan tentunya akan meningkatkan suhu kemarahan rakyat yang berdampak pada ketidakstabilan politik.
Sutisna juga mengatakan untuk mengantisipasi gejolak tersebut, salah satu cara yang perlu dilakukan Presiden adalah mengevaluasi kinerja kabinetnya yang kerap menjadi bulan-bulanan rakyat. Bahkan menteri-menteri yang bermasalah seharusnya sudah di reshuffle.
Karena ketidakbecusannya dalam membantu Presiden untuk mensukseskan nawacitanya. Masih banyak anak bangsa yang punya pengalaman yang bisa diajak untuk membantu kerja-kerja presiden Prabowo di pemerintahannya atau yang sudah pernah menjabat pada periode sebelumnya. Bisa diajak kembali untuk bisa berkontribusi dalam kabinet merah putih.
Oleh karena itu Presiden harus bisa membaca gejolak yang terjadi agar tak salah arah dalam mengambil setiap kebijakannya seperti mereshuffle menteri yang bermasalah seperti menteri ESDM yang gagal melakukan tata kelola energi serta menteri BUMN yang gagal melindungi konsumen akibat dari skandal Pertamax Oplosan yang sangat merugikan masyarakat.
“Selain itu juga perlu melakukan mitigasi-mitigasi agar roda pemerintahan ini tetap berjalan. Kalau tidak, tentu ini akan menjadi hal yang akumulatif ketika kondisi ekonomi yang tak stabil sejalan dengan kondisi politik. Akan menimbulkan persoalan yang besar bagi pemerintah saat ini. “Tutup Sutisna”












