monwnewns.com – Malang,- Terpantau oleh awak media,seorang pelajar tingkat menengah atas,tengah memungut batu bata yang tercecer dipertigaan tengah jalan,Rabu (06/05/2026) sore.
Pelajar tersebut tampak sedang memunguti batu bata untuk diletakan dipinggir jalan,sementara kendaraan R 2 maupun R 4 terlihat tetap melintas di area Jalan KH. Kyai Parseh Jaya,Kelurahan Bumiayu,Kecamatan Kedungkandang.
Didekati oleh awak media,pelajar bernama Khafidz Abdinegoro itu,ternyata pelajar dari SMAN 6 Kota Malang kelas X,yang kebetulan saat pulang sekolah,di jalan yang ia lewati ,dirinya mendapati adanya serakan batu bata merah ditengah jalan.
“Pas saya melintas di tikungan pertigaan ini ,ada batu bata berserakan,segera saya menepikan motor,terus mengambil batu bata tersebut,demi menjaga keamanan dan keselamatan pengendara motor,apalagi ramai kendaraan sore ini,” ujar Khafidz.
Memungut batu bata ataupun sampah di tengah jalan oleh seprang pelajar tersebut tentunya bertujuan untuk membersihkan lingkungan dan menjamin keselamatan pengguna jalan, terutama mencerminkan akhlak mulia dalam pengamalan Pancasila Sila ke-5, yaitu ‘Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia’.
Mengapa tindakan tersebut termasuk sila ke-5, karena termasuk menjaga kepentingan umum.
Tindakan tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap fasilitas umum dan keselamatan orang lain.
Ini merupakan Keseimbangan Hak dan Kewajiban, maka Pelajar tersebut menunjukkan tanggung jawab untuk tidak merugikan orang lain dengan membersihkan rintangan di jalan.
Selain itu, tindakan tersebut juga mencerminkan Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab).
Karena beradab dalam menjaga lingkungan dan berempati pada keselamatan pengguna jalan.
Termasuk pengamalan Sila ke-3 (Persatuan Indonesia). Sebagai wujud gotong royong kecil dalam masyarakat.
Dalam konteks kurikulum modern, ini juga merupakan perwujudan dari Profil Pelajar Pancasila khususnya sub-elemen “Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia” (akhlak kepada alam) dan “Gotong Royong”,yang diterapkan oleh pihak lembaga sekolah di SMAN 6 Kota Malang.
Tindakan kecil, tapi maknanya sebesa
Seorang pelajar memungut batu di tengah jalan raya. Ini bukan cuma soal “anak baik”. Ini ujian karakter level jalanan.
Dan penulis coba mengurai dari 3 kacamata ;
1. Makna Tindakan Itu Sendiri: Filosofi “Memungut”
Aksi Filosofi Jawa Karakter yang Muncul
*Melihat Batu* Waspada ing Paningal: Mata nggak cuma buat lihat HP. Mata buat “scan” lingkungan. *Kepedulian & Kepekaan Sosial*. Dia nggak cuek. Peka kalau ada bahaya buat orang lain.
2 Berhenti & Memungut Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake: Berani bertindak benar walau sendirian, tanpa harus ngerasa paling hebat. *Keberanian Moral & Inisiatif*. Nggak nunggu disuruh guru, nggak nunggu “viral” dulu baru nolong.
*Menyingkirkan ke Pinggir* Hamemayu Hayuning Bawana: Kewajiban menjaga keselamatan & keindahan dunia, mulai dari hal kecil.
3 Tanggung Jawab Publik Jalan raya itu milik bersama. Dia merasa ikut punya, ikut jaga.
*Risiko Kepleset/Ketabrak* Ngati-ati: Berani tapi tetap pakai perhitungan. Nengok kanan-kiri dulu. *Berani yang Cerdas*. Nggak asal heroik tapi celaka. Amal baik nggak boleh matiin akal sehat.
(galih)












