Umum  

BerkeTuhanan Diantara Terlimpahkan Atas Sumber Daya Alam Dalam Keadilan Sekaligus Kemakmuran Bagi Seluruh Rakyatnya

Oleh : Gagoek INAKER. Ketua Dewan Pendiri INDONESIA BEKERJA.

KRMH. Gagoek Kapoet Triana, S.H

Monwnews.com, Berkaitan diantara Teologi Berketuhanan dengan kondisi sebuah negara yang masyarakatnya meningkat kemiskinan sarat dan serta mangkin masiv K.K.N. ( korupsi, kolusi, nepotisme) padahal kaya akan sumber daya alam adalah persoalan yang kompleks dan serta perlu perenungan dijernihkan tindakan serta satunya kata dengan kebijakan atas strata kepemimpinan dari pusat hingga tingkat desa , namun tidak semua agamawan atau negara religius otomatis korup dan atau miskin, tetapi memang bisa timbul ketegangan antara beragama / formalitas dan serta bertuhan / transformasi etis.

Beda agama lisan dan bertuhan etis dimana bertuhan dalam kajian teologi sering dimaknai sebagai kehidupan yang berorientasi pada keadilan, solidaritas dengan orang miskin, dan penolakan terhadap penindasan , misalnya dalam teologi pembebasan atau teologi solidaritas.

Sementara hanya beragama bisa merujuk pada praktik agama yang terbatas pada ritual, simbol, dan identitas, tanpa mengubah struktur kekuasaan yang memperparah KKN dan kemiskinan.

Berkaitan dengan agama, KKN, dan serta kemiskinan struktural banyak penelitian sosial‑teologi menunjukkan bahwa kemiskinan dinegara religius tidak semata karena agama, tetapi karena dimana kebijakan yang tidak adil, oligarki kekuasaan, dan serta korupsi kolusi nepotisme yang ternyata kerap tumbuh ditengah masyarakat yang religius, bukan justru terkikis nun makin masiv.

Pandangan teologis yang terlalu individualistik ( misalnya dimana orang miskin dianggap kurang kerja keras atau kurang iman ) justru menutupi akar struktural kemiskinan, sehingga KKN terus berjalan tanpa koreksi.

Dalam konteks Indonesia, beberapa kajian teologi agama‑agama menekankan bahwa agama seharusnya menjadi kekuatan moral untuk menggugat KKN dan mengusung keadilan sosial, bukan hanya menciptakan simbol negara religius.

Kajian teologi yang relevan setidaknya tiga pendekatan teologi yang berguna untuk menggali tema ini adalah Teologi Pembebasan dimana menempatkan Allah di sisi orang miskin dan menuduh struktur kekuasaan yang menindas sebagai dosa struktural.

Teologi Solidaritas menegaskan bahwa kekayaan dan kekuasaan harus digunakan untuk membebaskan yang lemah, bukan dijadikan alat KKN.

Teologi berbagai agama‑agama dalam mencari common ground ajaran agama untuk melawan kemiskinan dan korupsi, misalnya lewat nilai keadilan, sedekah, dan amanah.

Contoh aplikasi gagasan dalam konteks negara yang miskin tetapi religius, kajian teologi bisa menanyakan bahwa bagaimana bertuhan seharusnya memaksa pemimpin dan pejabat untuk jujur, adil, transparan, dan serta berpihak pada Rakyat Bersama, bukan hanya rajin ritual.

Bagaimana agama dapat menjadi ruang publik kritis yang mengekspose KKN dan mendorong kebijakan yang mengurangi kemiskinan struktural, bukan hanya tempat ritual kolektif tanpa kritik.

Dengan kerangka konsep bertuhan vs hanya beragama, lalu kaitannya dengan KKN dan keberadaan kemiskinan struktural di Indonesia.

Teologi pembebasan mengajarkan bahwa kemiskinan struktural bukan sekadar nasib buru atau dosa pribadi, melainkan buah dari ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik yang perlu diubah lewat praksis iman yang berpihak pada orang miskin.

Tujuan utama teologi pembebasan adalah pembebasan menyeluruh dari kebodohan, penindasan budaya ekonomi, politik, dan bukan hanya pembebasan mental atau spiritual yang abstrak.

Teologi ini menolak pandangan bahwa kemiskinan adalah takdir Tuhan dimana sebaliknya, kemiskinan struktural dipandang sebagai hasil ketidakadilan yang harus diatasi dengan tindakan nyata.

Pandangan Terhadap
Kemiskinan Struktural didefinisikan sebagai kemiskinan yang dihasilkan dari sistem sosial yang menutup akses ekonomi, pendidikan, dan kuasa bagi kelompok tertentu ( misalnya buruh, petani, rakyat kecil ).

Teologi pembebasan menegaskan bahwa akar kemiskinan sering berkaitan dengan kekuasaan, kapitalisme, dan keinginan berlebihan akan kekayaan ( dalam istilah teologi “Mamon” atau kerakusan dunia ).

Ajaran utama untuk mengatasi kemiskinan
Kebalikan keberpihakan Tuhan dimana Tuhan dipandang berpihak pada orang miskin dan tertindas, sehingga umat beriman dituntut untuk berdiri disisi mereka , bukan hanya membiarkan mereka pasrah.

Praksis terbentuk keadilan sosial dimana Teologi tidak hanya teori bahwa teologi pembebasan menekankan dalam aksinya yaitu advokasi, gerakan Rakyat Damai, cerdas , trengginas, bersolusi, berbasis komunitas , dan serta reformasi total kebijakan yang menuntut keadilan ekonomi dan serta politik kesetaraan.
Disadarkannya kesadaran kritis dan mana Teologi ini membantu orang miskin menyadari bahwa kemiskinan mereka bukan salah sendiri , sehingga mereka bisa bangkit dan terlibat dalam perjuangan kolektif.

Dimensi spiritual dan praktis
Di satu sisi, teologi pembebasan menekankan dimensi spiritual dimana miskin sukarela, rendah hati, dan mengendalikan hasrat material ( agar “Mamon” tidak menguasai hati ).

Disisi lain, teologi pembebasan juga menekankan dimensi revolutif/struktural dimana membangun sistem yang lebih adil, mendorong kebijakan anti‑korupsi, dan melibatkan agama sebagai kekuatan moral untuk mengubah struktur sosial.

Dengan demikian, teologi pembebasan mengajarkan bahwa mengatasi kemiskinan struktural adalah tugas iman melibatkan diri secara konkret dalam perjuangan keadilan, sambil membangun kesadaran spiritual dan solidaritas bersama orang miskin.

Asghar Ali Engineer menggunakan konsep tawhid bukan hanya sebagai doktrin teologis tentang keesaan Allah, tetapi sebagai landasan etis dan politis untuk mengatasi kemiskinan struktural.

Menurutnya, tawhid harus mengarah pada keadilan sosial, persatuan umat manusia, dan penghapusan struktur yang menindas.

Tawhid sebagai dasar keadilan sosial
Engineer menafsirkan tawhid sebagai pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak dipertuhankan, sehingga setiap bentuk kekuasaan manusia yang menindas orang miskin harus dihentikan.

Konsep ini menolak tuhan‑tuhan lain selain Allah, seperti kapitalisme, feodalisme, dan budaya korupsi yang menaklukkan orang miskin dan mengumpulkan kekayaan pada segelintir elite.

Tawhid mempersatukan umat manusia.
Inti teologi pembebasan Engineer adalah bahwa tawhid juga berarti ke‑esa‑an umat manusia ( unity of mankind ), sehingga perbedaan kelas, etnis, dan agama tidak boleh menjadi alasan untuk menindas dan memiskinkan.

Dari sini, ia mengajak umat Islam untuk membangun solidaritas sosial dimana yang kaya membantu yang miskin, penguasa menata ulang struktur agar tidak ada lagi eksploitasi manusia atas manusia.

Tawhid dalam praktik mengatasi kemiskinan dimana Ali Engineer menekankan bahwa perang melawan kemiskinan adalah bagian dari iman Islam dimana tawhid harus diwujudkan lewat kebijakan yang menghapus ketimpangan, seperti pajak yang adil, distribusi sumber daya, dan penghapusan monopoli ekonomi.

Dalam konteks Indonesia dan masyarakat Muslim secara umum, ia menyerukan penyadaran kritis bahwa umat harus memahami bahwa ketidakadilan struktural adalah pelanggaran terhadap tawhid, dan karena itu mengatasinya adalah tugas ibadah dan keadilan, bukan hanya amal perorangan.

Dengan demikian, bagi Asghar Ali Engineer, tawhid menjadi proyek pembebasan dimana keyakinan bahwa Allah yang satu harus diwujudkan dalam struktur sosial yang menjamin, kebebasan berpendapat hingga tercipta keadilan sesama, menghancurkan kemiskinan struktural, dan serta dapat membebaskan manusia dari ketertindasan sistemik.

JANGAN KAGETAN, JANGAN CEPAT KEHERANAN

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang berkumpul bersolusi dan serta trus bergerak bergerak bergerak berkehendak bersama dengan akal nalar pikir ilmu dan derajad keimanan masing-masing personal.

MAN JADDA WAJADA

Trus bersinergi bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama pula hingga segera tiba saat NYA terwujud keadilan kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia dan serta segera tumbuh beribu lahir sauritauladan atas kepemimpinan baik tingkat nasional hingga desa dari segala bidang yaitu semata-mata berperilaku satunya kata dengan perbuatan dan ataupun kebijakannya yang pro Rakyat Bersama.

Dan jangan lupa bahagia berbagai cara dan serta gaya sahaja.

#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🤝✊💪🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Exit mobile version