Hidup Penuh Makna Nilai dan serta Kemajuan Budaya

Oleh: Gaguk Inaker

Monwnews.com, Dalam hidup itu diharapkan penuh magna nilai bersumber dan serta ruang nilai maupun berkemajuan kebudayaan dimana berproses memajukan budaya dalam harmoni dengan seluruh alam, baik pada level pribadi maupun sosial.

Hal demikian dapat dijelaskan dari tiga sisi utama filsafat ilmu yaitu empiris ( pengalaman ), epistemologis ( cara tahu ), dan aksiologis ( nilai/kegunaan ).

~1. Penjelasan empiris ( berdasar fakta-hidup ) secara empiris, hidup selalu tampak sebagai jaringan relasi diantara manusi dengan manusia, manusia dan serta perkembangan eksistensi budaya yang tidak statis namun dinamis , manusia dengan alam semesta.

Di masyarakat tradisional Nusantara, ada banyak praktik nyata seperti gotong royong, larangan menebang pohon di hutan adat, pembatasan menangkap ikan, dan ritual syukuran panen yang menjaga kelestarian alam dan komunitas.

Praktik ini menunjukkan bahwa budaya berfungsi mempertahankan kelangsungan hidup dan keseimbangan ekosistem.

Empirisnya juga tampak bahwa budaya yang menguntungkan ( mampu menjaga eksistensi masyarakat di tengah lingkungan alam dan sosial ) harus cenderung berkembang, dilestarikan dan diwariskan, sedangkan pola hidup yang merusak alam atau merusak tatanan sosial cenderung ditinggalkan dan atau dikoreksi terus menerus.

Jadi, secara empiris, hidup sebagai magna nilai berarti dalam pengalaman nyata, manusia terus memproduksi, menguji, dan serta memperbaiki pola nilai lewat kebiasaan, adat, dan institusi sosial yang terbukti menjaga harmoni diantara manusia–alam–komunitas.

~ 2. Penjelasan epistemologis ( bagaimana kita mengetahui ) dalam Epistemologi pertanyaan dari mana kita tahu bahwa hidup itu bernilai dan harus bersifat harmonis dengan alam ?

Pengetahuan tentang hidup yang selaras muncul dari beberapa bersumber daripada pengalaman sehari-hari ( trial and error dalam mengelola alam ), tradisi dan serta kecerdasan kearifan lokal, ajaran-ajaran agama / etik dan serta adab , refleksi rasional.

Misalnya, konsep seperti Tri Hita Karana dalam budaya Bali menegaskan keselarasan manusia–Tuhan–alam sebagai prinsip penataan ruang dan hidup bersama.

Dalam filsafat ilmu, epistemologi menjelaskan bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari eksperimen laboratorium, tetapi juga dari praktik sosial-budaya yang berulang dan refleksi kritis atasnya.

Kearifan lokal soal hutan adat, pola tanam, pembagian air, dan tata ruang desa adalah bentuk pengetahuan empiris yang diolah menjadi norma dan simbol budaya.

Jadi, secara epistemologis, hidup berkemajuan kebudayaan dalam harmonisasi alam berarti bahwasannya sebagai manusia yang berakal bernalar berfikir berilmu dan berkeimanan diantara kita, kami kamu mereka dapat mengenali mana pola hidup yang bernilai dari pengalaman kolektif jangka panjang ( apa yang membuat masyarakat dan alam bertahan, seimbang, dan berkelanjutan ), Lantas pengetahuan itu dikukuhkan dan ditransmisikan lewat budidaya maupun ritus, cerita, hukum adat, dan pendidikan.

~ 3. Penjelasan aksiologis ( nilai dan serta kegunaan ) dalam kajian Aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas nilai dimana apa yang baik, apa yang layak, untuk apa pengetahuan dan tindakan dipakai.

Dari sisi aksiologis, pernyataan tersebut mengandung beberapa pokok agar hidup sebagai magna nilai berarti hidup dipahami sebagai medan di mana nilai-nilai seperti kebaikan, keadilan, keberlanjutan, saling mengotong meroyong, dan serta keselarasan dipertaruhkan dan diusahakan.

Aksiologi bertanyanya nilai mana yang seharusnya kita pilih, dan mengapa ?

Berkemajuan kebudayaan menekankan bahwa kemajuan bukan hanya teknologi atau ekonomi, tetapi harus ada peningkatan kualitas nilai makin etis, makin adil, makin ramah dengan lingkungan sekitar, makin saling hormat menghormati martabat manusia dan makhluk lain.

Aksiologi menguji apakah suatu kemajuan sungguh-sungguh memanusiakan manusia dan menjaga alam, atau justru merusak.

Harmonisasi seisi alam-NYA ( jika dimengerti sebagai alam sebagai ciptaan Tuhan ) menempatkan nilai tertinggi pada keseimbangan relasi dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam.

Dalam banyak tradisi keagamaan dan filsafat, aksiologi menegaskan bahwa tindakan yang bernilai adalah tindakan yang menjaga keselarasan tiga relasi ini.

Contoh konkret adalah ketika ilmu dan teknologi dipakai untuk eksploitasi alam tanpa batas, secara aksiologis itu dianggap salah karena melanggar nilai keberlanjutan dan keadilan antar generasi sebaliknya, teknologi yang dipakai untuk energi bersih, pertanian berkelanjutan, dan pemulihan lingkungan dinilai baik karena mendukung harmoni hidup manusia dan alam.

Berikut beberapa contoh kearifan lokal Nusantara yang jelas menekankan harmoni manusia dengan alam yaitu ;
Subak di Bali dengan kecerdasan lingkungan dalam sistem irigasi tradisional yang mengatur pembagian air sawah secara adil.

Didasari filosofi Tri Hita Karana dimana harmoni manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, sehingga pertanian produktif dan ekosistem air tetap terjaga.

Kearifan Suku Baduy ( Banten ) dalam menjaga hutan sebagai kawasan sakral, melarang penebangan sembarangan dan penggunaan bahan kimia dalam pertanian.

Hidup sederhana, membatasi teknologi, dan mengelola lahan secara tradisional agar keseimbangan alam tidak rusak.

Sistem tumpangsari dan pertanian berkelanjutan ( berbagai daerah, seperti Karangdowo ) dalam menanam beberapa jenis tanaman sekaligus di satu lahan untuk saling melindungi, menjaga kesuburan tanah, dan mengurangi hama.

Mengurangi ketergantungan pestisida dan pupuk kimia buatan , menggantinya dengan bahan organik sehingga ekosistem tanah dan serta air lebih sehat.

Sasi di Maluku dan Papua ( garis besar ) Aturan adat yang melarang sementara waktu pengambilan hasil laut/hutan di area tertentu, lalu dibuka kembali setelah masa larangan.

Tujuannya memberi waktu alam memulihkan diri, menjaga stok ikan, kerang, atau hasil hutan bagi generasi berikutnya.

Pengelolaan air di daerah kering , contoh: Gunung Kidul.

Masyarakat memanfaatkan cekungan-cekungan batuan karst untuk menampung air hujan sebagai cadangan saat kemarau.

Hal ini mengurangi kerentanan kekeringan dan menunjukkan adaptasi cerdas terhadap kondisi alam setempat.

“JANGAN KAGETAN, JANGAN CEPAT KEHERANaN”

Gotong Royong di lingkungan ( berbagai desa ) warga rutin bekerja bakti sambil bersilaturahmi guna membersihkan parit sungai, menanam pohon, dan memperbaiki fasilitas umum.

Nilai Gotong Royong ini mengikat hangat sosial sekaligus merawat lingkungan hidup berkehidupan bersama.

Tetap bersyukur, saling berbagi, saling berkumpul bersolusi bersama akal nalar pikir ilmu dan iman kita kami kamu mereka dan jangan lupa bahagia dengan berbagai cara dan serta gayanya.

Salam hangat keluarga.

#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🕺🏻💃🤝✊💪🥰
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨

Exit mobile version