Monwnews.com – Berangkat kemelekatan geopolitik daripada keberanian fisik dikeberanian ontologis dalam tradisi Tantra-Śiwa , baik di India maupun dalam bentuk yang sudah di-Jawa-kan yang ditekankan bukan sekadar keberanian dimedan perang, melainkan keberanian ontologis dimana berani menghadapi kematian, berani melampaui dualistik menang maupun kalah, hidup atau mati, mulia atau hina, berani menanggung tanggung jawab kosmis sebagai pemegang kekuasaan.
Dalam hal ini terpendam dalam ungkapan seperti
satriya tan kena ing pandita ksatria tidak bisa sekadar diajari, harus dilalui dalam laku puasa, kontemplasi mencapai kepemimpinannya dan serta gusti, kula nyuwun dados abdi, mboten nyuwun dados tuan tergambar semangat sikap ksatria sejati yang siap mengabdi, bukan sekadar memerintah.
Selaras dengan semangat Tantra dengan kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan wahana sadhana atau jalan latihan menggempur diri dalam tehnologi spiritual.
Adapun slogan Mati dalam logika Tantra-Śiwa dengan dalam Mukti Atau Mati dapat dibaca dalam tiga lapis sebagai berikut ;
Mati fisik adalah gugur dimedan perang, namun dengan kesadaran penuh dan serta pilihan bukan karena keterpaksaan buta.
Mati ego yaitu kematian atas keinginan pribadi, prmbesan ketakutan, dan serta ambisi sempit.
Hal inilah kematian yang paling ditekankan dalam Tantra.
Sedang Mati sebagai pintu mukti hanya dengan mati secara batiniah sehingga melepaskan kemelekatan, seseorang bisa mencapai mukti yaitu kebebasan, kemerdekaan sejati.
Dengan demikian, semboyan Sultan Agung bukan sekadar retorika perang, melainkan mantra etis-spiritual yang mengondisikan prajurit dan elite untuk bertindak dari posisi bebas dari ketakutan, bukan dari posisi reaktif.
Praksis Kasatrian dalam Politik dan serta Militer Sultan Agung dalam penyatuan kewilayahan adalah proyek kosmo-politis
Sultan Agung dalam melakukan penaklukan dan serta integrasi berbagai kadipaten dan kerajaan di Surabaya, Madura, sebagian Jawa Barat, ataupun daerah lainnya.
Sehingga Mataram mencapai puncak territorial dengan sikap satunya kata dengan perbuatan kepemimpinannya.
Bukan sekadar ekspansi militer, namum proyek penyatuan kosmis.
Kewilayahan sebagai satu tubuh politik di bawah satu poros Mataram, mirip konsep cakravartin dimana Raja berwenang pemutar roda dharma dalam tradisi India.
Disinilah kemelekatan Sultan Agung tetap berwatak kasatria tampil memanggul visi besar dikarenakan tidak puas dengan campurtangan atas kedaulatan maupun kewilayahan , sehingga keberanian strategis menyerang VOC di Batavia, meski tahu risikonya sangat besar, namun tanggung jawab historis dengan meninggalkan jejak bagi generasi sesudahnya.
Serangan ke Batavia dalam semangat slogan Mukti atau Mati dalam aksi terjadi dua ekspedisi besar ke Batavia pada 1628 dan 1629 wslaupun gagal secara militer, namun menegaskan posisi Mataram sebagai subjek sejarah, bukan objek pasif dalam perdagangan VOC.
Hal itulah menunjukkan bahwa Sultan Agung lebih tidak takut gagal tetap dengan gagah berani daripada tidak melakukan sama sekali.
Adapun terapan hukuman mati terhadap panglima yang gagal seperti dalam narasi penyerbuan Batavia menegaskan bahwa tanggung jawab ksatria atas kegagalan adalah bagian dari etos perjuangan.
Dalam logika Mukti ataupun Mati jikalau menang maka mukti kejayaan, martabat didapat, kedaulatan bagi seluruh prajurit elite maupun Rakyatnya.
Namun jika kalah tetap mukti secara moral, karena telah memilih jalan ksatria, bukan jalan kompromi yang merendahkan harga diri.
Kerangka Ontologinya dalam apa hakikat watak kasatria.
Hakikat Watak kasatria bukan sekadar sifat berani, melainkan mode eksistensi manusia yang mengakui adanya tugas kosmis menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, dan tentunya siap menanggung risiko eksistensial termasuk kematian demi tugas itu.
Dalam Tantra-Śiwa, kasatria adalah manifestasi energi Śiwa dalam ranah kekuasaan dan perang sehingga energi yang menghancurkan ketidaktertiban adharma untuk menegakkan tatanan.
Watak kasatria adalah bentuk manusia dari prinsip kosmis tersebut.
Sedang dalam kerangka Epistemologinya bagaimana watak kasatria diketahui dan serta ditransmisikan sesegera dalam kepemimpinannya bersumber perpaduan ilmu pengetahuan.
Teks-teks keagamaan ( Śiwaisme, Buddhisme, kemudian Islam-Jawa ), dalam menggempur diri praktik ritual yaitu tapa, brata, zikir, puasa, tirakat dll.
Atas tradisi lisan cerita pewayangan, babad, dongeng keraton dll adalah menjadikan pengalaman langsung dimedan perang dan serta negara dengan kepemerintahan.
Tantra bukan hanya lewat teori, namun lewat laku yaitu latihan fisik, mental, dan serta kecerdasaan spiritual/spiritual engenering.
Pengetahuan ksatria bersifat partisipatoris dimana seseorang tahu dalam tindakan nyata.
Dalam konteks Tantranya pengetahuan diperoleh lewat inisiasi dan serta pengalaman transformatif , bukan sekadar hafalan doktrin.
Adapun kerangka Aksiologi atas nilai-nilai apa yang dijunjung berwatak kasatria tersebut pertama dan utama Nilai Etis tercermin satunya kata dengan kepemimpinan dalam hal ;
~Keberanian (bravery),
~Tanggung jawab (responsibility),
~Keadilan (justice),
~Pengabdian (service),
~Kesetiaan pada prinsip (integrity).
Nilai Estetisnya tercermin dalam bersikap tenang dalam bahaya ‘sirep ing bebaya’, maka berkata-kata yang tegas namun tidak berlebihan, sedang tindakannya yang proporsional dan serta selalu bermartabat.
Adapun Nilai Kecerdasan Spiritual dalam kelakuan tindak tanduk maupun pengakuan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan milik pribadi, berkesiapan mati sebagai bentuk penyerahan total kepada Yang Maha Kuasa.
Orientasi pada muktif (kemerdekaan sejati), bukan sekadar kemenangan duniawi.
Watak Kasatria dalam sejarah dapat dibaca sebagai kelanjutan struktural dari tradisi Tantra-Śiwa yang masuk sejak abad ke-4, yang mengalami proses akulturasi panjang hingga mencapai bentuk politik spiritualnya yang paling matang dalam figur Sultan Agung dan serta semboyan ‘Mukti Atau Mati’.
Tetap bersyukur, saling berbagi, saling silang berkumpul bersolusi dengan kecerdasaan emosi, literasi, intelektual dan serta kecerdasaan tehnologi spiritual.
“JANGAN CEPAT KAGETAN, JANGAN GAMPANG KEHERANAN”
Dan diharuskan tetap trus bergerak bersinergi bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama-sama hingga terwujud keadilan kemakmuran dari oleh untuk seluruh Rakyat IndOnesia Indonesia.
Serta jangan lupa juga tetap trus tersenyum bahagia sesuai kemampuan dan serta cara maupun gayanya.












