Rupiah, Angka, dan Ilusi “Mudah”

Oleh : Tri Prakoso, SH.,MHP. (WKU Bidang Migas Kadin Jatim)

Profil Tri Prakoso, SH.,MHP. (Wakil Ketua Kadin Jawa Timur)
Profil Tri Prakoso, SH.,MHP. (Wakil Ketua Kadin Jawa Timur)

Monwnews.com, Kalimat itu meluncur ringan, nyaris seperti seloroh di tengah forum ekonomi: “Kalau saya di posisi Bank Indonesia, rupiah mudah ke Rp15.000.” Yang mengucapkannya bukan spekulan pasar, bukan fund manager Wall Street, melainkan Purbaya, seorang pejabat yang paham betul bahwa di dunia moneter, kata mudah adalah kosakata paling berbahaya.

https://www.instagram.com/p/DS1J4jRErJk/?img_index=1
https://www.instagram.com/p/DS1J4jRErJk/?img_index=1

Di negeri yang mata uangnya kerap menjadi termometer kepercayaan, pernyataan semacam itu bukan sekadar opini. Ia adalah sinyal. Dan dalam politik ekonomi, sinyal sering kali lebih menentukan daripada data.

Pertanyaannya bukan sekadar: apakah rupiah bisa ke Rp15.000?

Pertanyaan yang lebih jujur adalah: mudah bagi siapa, dan mahal bagi siapa?

Angka sebagai Fetish Politik

Sejarah ekonomi Indonesia penuh dengan obsesi terhadap angka kurs. Seolah-olah ada titik magis—Rp10.000, Rp12.000, Rp15.000—yang jika disentuh, otomatis menandakan negara ini “baik-baik saja”. Padahal kurs bukan piala, melainkan harga. Dan seperti semua harga, ia adalah hasil tawar-menawar kepentingan global, domestik, psikologi pasar, dan kredibilitas kebijakan.

Di sinilah masalahnya. Ketika seorang pejabat tinggi mengatakan rupiah “mudah” menguat, ia secara implisit mengirim pesan bahwa pelemahan sebelumnya adalah akibat pilihan, bukan keterpaksaan. Bahwa jika mau, negara bisa. Jika tidak bisa, berarti tidak mau. Ini narasi yang menggoda—dan berbahaya.

Karena dalam dunia moneter, kemampuan bisa tidak pernah berdiri sendiri tanpa pertanyaan harus dengan biaya apa.

Bank Sentral Bukan Pawang Angka

Mari kita luruskan satu hal mendasar. Bank Indonesia bukan lembaga pengejar target kurs. Mandatnya adalah stabilitas nilai rupiah—bukan rupiah kuat, apalagi rupiah gagah. Stabilitas berarti cukup kuat untuk menahan inflasi, cukup fleksibel untuk menyerap guncangan, dan cukup kredibel untuk dipercaya pasar.

Itu sebabnya Indonesia menganut rezim nilai tukar mengambang terkendali. Kurs boleh naik-turun mengikuti pasar, sementara bank sentral masuk jika volatilitas berubah menjadi kepanikan. Ini pilihan sadar, lahir dari trauma krisis dan kesadaran bahwa melawan pasar secara frontal sering berakhir dengan cadangan devisa yang gosong dan reputasi yang hancur.

Maka ketika ada klaim “mudah ke Rp15.000”, pertanyaannya sederhana: mudah dalam rezim apa?
• Jika kurs dibiarkan menguat karena pasar global memang sedang ramah, itu bukan kehebatan kebijakan. Itu kebetulan siklus.
• Jika kurs dipaksa menguat melalui intervensi agresif dan suku bunga tinggi, itu bukan mudah. Itu mahal.

Trilemma yang Selalu Dilupakan

Ekonomi moneter internasional mengenal satu hukum keras yang tidak bisa dinegosiasikan: impossible trinity atau trilemma. Negara tidak bisa sekaligus memiliki tiga hal ini secara penuh:
1. Nilai tukar stabil,
2. Arus modal bebas,
3. Kebijakan moneter independen.

Indonesia memilih membuka arus modal dan menjaga independensi moneter. Konsekuensinya jelas: nilai tukar tidak bisa dipatok sesuka hati. Ia harus berdamai dengan arus dana global yang bergerak seperti kawanan burung migran—datang ramai, pergi serempak.

Dalam konteks ini, pernyataan “mudah” terdengar seperti mengabaikan trilemma. Seolah-olah rupiah bisa digiring ke kandang tertentu tanpa mengorbankan apa pun. Padahal setiap langkah menuju penguatan cepat selalu menuntut korban: pertumbuhan yang melambat, kredit yang mahal, atau cadangan devisa yang terkuras.

Suku Bunga: Obat Keras dengan Efek Samping

Secara teori, rupiah memang bisa dikuatkan lewat satu jurus klasik: suku bunga tinggi. Naikkan imbal hasil aset rupiah, dan dana portofolio akan berdatangan. Rupiah pun menguat.

Tapi ini bukan jurus tanpa efek samping. Suku bunga tinggi adalah obat keras. Ia menahan inflasi, tapi juga menahan investasi. Ia menenangkan pasar uang, tapi mencekik dunia usaha. Dalam jangka pendek, kurs mungkin tersenyum. Dalam jangka menengah, ekonomi bisa meringis.

Jika ini yang dimaksud dengan “mudah”, maka mudah bagi grafik kurs—tidak bagi pelaku ekonomi riil.

Intervensi Valas: Menang Cepat, Kalah Diam-Diam

Pilihan lain adalah intervensi langsung: bank sentral menjual dolar, membeli rupiah. Kurs menguat. Masalah selesai? Tidak.

Intervensi hanya efektif jika pasar percaya bank sentral punya cukup amunisi dan kemauan politik untuk bertahan. Jika pasar mencium keraguan, intervensi justru mengundang serangan spekulatif. Ini pelajaran klasik Asia.

Cadangan devisa bukan sekadar angka statistik. Ia adalah simbol daya tahan. Menggunakannya untuk mengejar level kurs tertentu adalah perjudian reputasi. Sekali pasar menilai bank sentral terlalu obsesif pada angka, kredibilitas bisa runtuh lebih cepat daripada kurs itu sendiri.

Yang Sering Diabaikan: Mengapa Rupiah Lemah

Pernyataan Purbaya membandingkan rupiah dengan mata uang regional lain yang menguat. Ini sindiran halus: kalau tetangga bisa, kenapa kita tidak?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Setiap mata uang membawa cerita sendiri:
• Struktur ekspor berbeda,
• Ketergantungan impor energi berbeda,
• Komposisi utang dan arus modal berbeda,
• Persepsi risiko politik dan fiskal berbeda.

Rupiah bukan kalah karena malas. Ia melemah karena membawa beban struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan operasi pasar uang. Tanpa memperbaiki pasokan dolar domestik, defisit transaksi tertentu, dan kepercayaan terhadap kebijakan jangka panjang, penguatan kurs hanya bersifat kosmetik.

Ilusi Kendali dan Bahaya Retorika

Di sinilah letak masalah utama pernyataan “mudah”. Ia menciptakan ilusi kendali. Seolah-olah negara selalu punya tombol rahasia yang bisa ditekan kapan saja. Dalam jangka pendek, retorika ini mungkin menenangkan publik. Dalam jangka panjang, ia berisiko memperlemah disiplin kebijakan.

Pasar tidak hanya membaca tindakan, tetapi juga bahasa. Ketika bahasa meremehkan kompleksitas, pasar akan menguji. Dan ujian pasar tidak pernah bersifat sopan.

Jika Rupiah ke Rp15.000, Itu Bukan Karena Satu Orang

Rupiah bisa menguat ke Rp15.000. Itu mungkin. Tapi bukan karena satu figur “berani”. Bukan karena satu kursi diganti. Ia terjadi jika:
• Dolar global melemah,
• Risiko Indonesia turun,
• Pasokan devisa domestik membaik,
• Koordinasi fiskal–moneter konsisten,
• Dan yang terpenting: pasar percaya tidak ada kepanikan di balik kebijakan.

Dalam skenario itu, rupiah menguat bukan karena dipaksa, melainkan karena dipercaya. Dan kepercayaan adalah mata uang paling mahal.

Kata yang Salah

Masalah terbesar dari pernyataan Purbaya bukan pada target Rp15.000. Angka itu mungkin, bahkan wajar dalam kondisi tertentu. Masalahnya adalah kata mudah.

Dalam ekonomi, hampir tidak ada yang benar-benar mudah. Yang ada adalah pilihan-pilihan sulit dengan konsekuensi berbeda. Bank sentral tidak ditugasi membuat rupiah terlihat perkasa, tetapi membuat ekonomi bertahan.

Jika rupiah suatu hari kembali ke Rp15.000, biarlah itu tercatat sebagai hasil kebijakan yang sabar, bukan keberanian retoris. Karena pasar bisa memaafkan kurs yang lemah, tetapi jarang memaafkan ilusi yang dibungkus keyakinan berlebihan.

Dan dalam urusan mata uang, ilusi adalah musuh paling mahal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *