Panas! Kuba Sebut AS Lakukan Terorisme Negara Usai Tangkap Maduro

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengecam penangkapan Nicolas Maduro oleh AS
Ilustrasi Bendera Amerika Serikat-Venezuela dan Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez.

Monwnews, Havana – Gelombang protes keras datang dari Havana menyusul tindakan militer Amerika Serikat (AS) yang melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel Bermudez, secara terbuka mengutuk operasi tersebut dan melabelinya sebagai aksi terorisme negara.

​Dalam keterangannya pada Senin (05/01/2026), Diaz-Canel menegaskan bahwa agresi militer yang dilakukan Washington terhadap pemimpin Venezuela sama sekali tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Ia memandang langkah tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara dan norma hukum global.

​”Apa yang terjadi di Venezuela adalah sebuah skandal besar. Ini adalah terorisme negara yang secara terang-terangan menabrak aturan internasional,” tegas Diaz-Canel sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez Saat Berpidato.

Diaz-Canel juga menggarisbawahi bahwa Venezuela selama ini merupakan negara yang menjunjung perdamaian dan tidak pernah menjadi ancaman bagi AS. Ia menyayangkan sikap Washington yang menafikan mandat sah yang diberikan rakyat Venezuela kepada Maduro melalui jalur demokrasi.

​Lebih jauh, pemimpin Kuba ini menarik garis paralel antara situasi di Venezuela dengan krisis kemanusiaan di Gaza, seraya menyerukan dunia internasional untuk tidak menutup mata. Ia memperingatkan bahwa pembiaran terhadap aksi semacam ini hanya akan memperburuk tatanan dunia.

​Terkait isu kekayaan alam, Diaz-Canel memberikan peringatan keras terhadap upaya intervensi asing. Ia menegaskan bahwa seluruh aset nasional Venezuela, mulai dari cadangan minyak hingga sumber daya tanah, adalah milik mutlak rakyatnya dan bukan komoditas yang bisa diklaim pihak luar.

​Sebagai penutup, Diaz-Canel menyatakan komitmen total negaranya untuk berdiri bersama Venezuela. Dalam retorika yang penuh emosional, ia menyebut rakyat Kuba siap memberikan pengorbanan tertinggi demi melawan apa yang ia istilahkan sebagai penindasan imperialisme.

​”Kami siap memberikan segalanya, bahkan jika harus mengorbankan darah kami sendiri, demi sebuah harga diri yang sangat mahal,” pungkasnya. (RHa/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *