Politik Kekuasaan Diantara Politik Kerakyatan

Oleh : mBah Kuntjir INAKER.

Monwnews.com, Politik Kekuasaan Diantara Politik Kerakyatan mewakili dua pendekatan berbeda dalam dinamika pemerintahan adapun yang pertama berfokus pada perebutan dalam penguasaan otoritas, sementara yang kedua menekankan partisipasi aktif Rakyat Bersama sebagai sumber kekuasaan utama.

Analisis menunjukkan ketegangan ini sering terlihat dalam praktik demokrasi Indonesia, dimana elite politik cenderung mendominasi meski konstitusi menjamin Kedaulatan Rakyat termasuk mendengarkan keberadaan kritik dan saran.

Pendekatan ontologis, epistemologis, dan serta aksiologis mengupas perbedaan ini secara mendalam.

Hakikat Ontologis dimana Politik Kekuasaan, memandang realitas kekuasaan sebagai esensi utama politik, dimana negara dan serta pemimpin tertinggi adalah sebagai aktor dominan yang mengendalikan sumber daya baik manusia maupun potensi alamnya.

Sebaliknya, Politik Kerakyatan dalam ontologisnya berpusat pada Rakyat sebagai acuan serta entitas primer, dengan kekuasaan sebagai dan hanya berhenti dalam pengabdian yaitu alat pelayananan bukan alat penguasa.

Secara empiris, ini terlihat di Pilkada Indonesia dimana kandidat elite semata merebut posisi demi kontrol, namun partisipasi pemilih mencerminkan aspirasi cermin Kerakyatan dikesampingkan .

Dalam Epistemologi Pengetahuannya tentang Politik Kekuasaan diperoleh melalui observasi hierarki dan serta analisis konflik elite, sering via studi kasus dimana terjadi korupsi merajalela dan atau karena koalisi partai.

Politik Kerakyatan mengandalkan metode partisipatif aktif seperti survei, musyawarah, dan data empiris dari pemilu untuk memahami kehendak Rakyat Bersama.

Contoh empiris seperti Kebijakan Bansos segera dievaluasi melalui data lapangan yang mengukur distribusi agar bertul merata, adil, serta jatuh presisi diterimakan pada yang sangat layak membutuhkan dengan menggabungkan data kuantitatif dan serta kualitatif untuk legitimasi.

Nilai dan serta Etika Aksiologis, dimana politik kekuasaan sering bernilai ultra pragmatis hanya berpacu dan demi kelestarian kekuasaan, acap kali mengorbankan keadilan yang baku demi stabilitas kekuasaan.

Politik Kerakyatan berpijak pada nilai-nilai Pancasila seperti keadilan sosial dan serta saling menggotong meroyong, sehingga menjadikan kebaikan bersama sebagai ukuran baku.

Indonesia dalam aksiologi belum teruji saat pemerintahannya demokratis guna mendorong akuntabilitas melalui partisipasi aktif masyarakat, meski tantangan seperti ketidaksetaraan politik ada.

Tetap bersyukur, saling berbagi, bersaling silang bersolusi, trus bergerak bersinergi bekerja giat keras cerdas tuntas terarah terukur bersama-sama sahaja dan serta jangan lupa bahagia berbagai gaya dan caranya.

#salamsatujiwa
#salamindOnesiabekerja
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🕺🏻💃🤝✊💪🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *