Polinotika Diantara Rezim Politik

Oleh: Gaguk Inaker - Ketua Dewan Pendiri INDONESIA BEKERJA.

KRMH. Gagoek Kapoet Triana, SH., Ketua Dewan Pendiri INAKER – Indonesia Bekerja

Monwnews.com, Polinotika dapat dibaca sebagai politik yang kehilangan etika hal msna kekuasaan tetap berjalan, tetapi orientasi kebenaran, tanggung jawab, dan kebaikan bersama menjadi kabur.

Kerangka ontologi, epistemologi, dan aksiologi membantu membedahnya sebagai problem tentang apa politik itu, bagaimana ia dipahami dan dijalankan, serta untuk apa ia bekerja.

Ontologi politik tanpa etika secara ontologis, politik adalah praktik mengelola kuasa, konflik, sumber daya, dan legitimasi dalam kehidupan bersama; dalam arti hal itu selalu ada selama manusia hidup dalam tatanan rezim sosial.

Ketika etika hilang, yang tetap ada bukan lagi politik sebagai pengelolaan kepentingan publik, melainkan dominasi, transaksi, manipulasi, dan pengamanan kekuasaan itu sendiri.

Hakekat polinotika adalah pergeseran dari politik sebagai pelayanan publik menjadi politik semata-mata hanya sebagai teknik mempertahankan posisi.

Epistemologi polinotika.
Secara epistemologis, polinotika lahir dari cara mengetahui yang rusak dimana kebenaran diganti citra, data dipilih selektif, dan narasi diproduksi untuk menang, bukan untuk benar.

Dalam kondisi ini, pengetahuan politik tidak lagi diuji dengan koherensi, bukti, dan keterbukaan, melainkan dengan efektivitas propaganda, loyalitas massa, dan kemampuan menguasai opini publik.

Akibatnya, yang dianggap realistis/permakluman dan serta sering justru yang paling oportunistis tersebut.

Aksiologi yang runtuh.
Secara aksiologis, politik seharusnya ditimbang dari nilai manfaat, keadilan, martabat manusia, dan kemaslahatan umum dan serta inilah titik dimana etika menjadi penentu arah.

Dalam polinotika, nilai itu dibalik bahwa yang baik adalah yang semata menguntungkan rezim, yang benar adalah yang stabil secara taktis, dan serta yang buruk adalah yang mengancam kuasa tersebut.

Dengan demikian, problem utama bukan kurangnya aturan, melainkan pembalikan nilai bahkan sonder keadaban.

Enam rezim manusia yaitu devisa, peradaban, kebudayaan, agama, politik, dan serta sosial dipahami sebagai enam rezim yang membingkai hidup manusia, polinotika terjadi saat politik menaklukkan lima rezim lainnya.

Rezim devisa membuat segala hal diukur lewat akumulasi dan arus uang, rezim peradaban lewat prestise kemajuan, rezim kebudayaan lewat simbol dan identitas, rezim agama lewat legitimasi sakral, rezim sosial lewat kontrol relasi dan solidaritas, dan rezim politik lewat kuasa formal.

Saat politik tanpa etika memasuki semua rezim itu, masing-masing kehilangan otonomi moralnya dan serta berubah menjadi alat reproduksi kekuasaan.

Adapun empirisnya dilapangan polinotika tampak dalam praktik janji palsu, patronase, politik transaksional, mobilisasi identitas, pembajakan lembaga, serta normalisasi kebohongan sebagai strategi memenangkan kompetisi.

Gejalanya itu juga muncul ketika kebijakan publik disusun untuk pencitraan jangka pendek, bukan penyelesaian masalah struktural.

Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak sedang dipimpin menuju kebaikan bersama, melainkan diarahkan untuk menerima ketimpangan sebagai hal yang wajar.

Bacaannya dalam satu formulanya secara ringkas, polinotika bisa dirumuskan sbb ; ontologinya adalah kuasa yang membengkak, epistemologinya adalah kebenaran yang dipelintir, dan serta aksiologinya adalah nilai yang dibalik.

Enam rezim manusia tadi menjadi medan tempat pembalikan itu bekerja secara serempak.

Dan karena itu, kritik polinotika tidak cukup moralistis namun harus membongkar struktur pengetahuan, struktur nilai, dan serta struktur kuasa sekaligus.

Adapun lawan dari polinotika bukan sekadar politik yang lebih santun, namun politik yang kembali tunduk pada etika publik, verifikasi pengetahuan, dan pembatasan kuasa.

Secara praktis, hal demikian itu menuntut transparansi, akuntabilitas, pendidikan kewargaan, media yang kritis, dan setta kultur intelektual yang berani menolak manipulasi.

Tanpa itu, politik akan terus menyamar sebagai pengelolaan umum padahal isinya hanya teknik memelihara dominasi.

Man Jadda Wajada

Tetap bersyukur, saling berbagi, berkumpul bersaling silang bersolusi, trus tetap bersama-sama guna bergerak, bersinergi bekerja keras cerdas tangkas cermat tuntas dengan akal nalar pikir ilmu beserta derajad keimanan masing-masing.

#salamsatujiwa
#salamnusantarabekerj@
🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🏃🏽‍♂️🏃‍♀️🤝✊💪🥰
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *