monwnews.com – Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri atau lebih dikenal dengan Megawati Soekarnoputri lahir dari pasangan Proklamator Ir. Soekarno dengan Fatmawati, seorang aktivis Muhammadiyah di Bengkulu.

Seperti halnya ayahnya yang sejak muda sangat dekat dengan tokoh-tokoh NU, kiai Wahab Chasbullah dan kiai Hasyim Asy’ari. Beliau juga dekat dengan putera Kiai Wahid Hasyim yaitu gus Abdurahman, juga tokoh NU lain seperti kiai Ma’ruf Amin dan kiai Ali Yafie.
Pada tahun 1990-an, beliau sering bersama Ketua Umum PBNU Abdurrahman Al-Dakhil bin Wahid Hasyim atau yang lebih kita kenal dengan Gus Dur, menjalin aliansi strategis mempererat hubungan antara kaum Nasionalis (PDI) dan warga Nahdliyin (NU).
Tahun 2001, beliau melawan Islamofobia paska tragedi 9/11 di WTC. Di depan Sidang Umum PBB, ia bersuara lantang menolak stigma Islam akar dari terorisme, ia mengutuk ketidakadilan global.
Tahun 2002, sebagai Presiden, beliau berkunjung ke Arab Saudi serta bertemu Raja Fadh bin Abdulaziz Al Saud di mana hasilnya Indonesia memperoleh tambahan kuota haji 30 ribu jamaah atau 17 persen menjadi 235 jamaah untuk Haji tahun 2003.
Tahun 2003, beliau menggagas Konferensi Internasional Perempuan Muslim bertajuk “International Conference of Islamic Women” yang diadakan di Jakarta pada Oktober 2003. Pidatonya menolak keras serangan AS ke Irak dan mempromosikan Islam moderat Asia Tenggara dalam KTT ASEAN dan OIC.
Tahun 2003, beliau mengesahkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengakui peran pesantren dan madrasah dalam sistem pendidikan formal dalam skema pembiayaan BOS.
Tahun 2004, beliau menginisiasi UIN Mengubah status beberapa IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) untuk mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu sains.
Tahun 2004, beliau menggagas International Conference of Islamic Scholars (ICIS) bekerjasama dengan PBNU untuk menghapus citra buruk Islam pasca Bom Bali 2002, dalam forum ini beliau mendeklarasikan bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi alam semesta) untuk melawan stigma Barat.
Tahun 2007, beliau sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan mendirikan Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) sebagai sayap slam di dalam partai yang dipimpinnya.
Tahun 2024, memperjuangkan Muhammadiyah & NU untuk memenangkan Zayed Award 2024 yang mana kapasitasnya saat itu adalah sebagai juri.
Tahun 2026, beliau meraih Doktor Honoris Causa dari Universitas ternama di Arab Saudi yaitu Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU).
Pelbagai serangan banyak menyudutkannya karena kerap dianggap tidak Islami. Beliau hanya menjawab : “Islam itu di sini” – sembari meletakkan tangan didadanya.
(galih)
Sumber literasi – medsos.












