Ketika “Aku” Lenyap: Sebuah Perjalanan Sufistik dari Tiada ke Ada, dan Kembali ke Tiada

Oleh: H. Tri Prakoso - Perkumpulan Pendoa Nusantara

Monwnews.com, PADA mulanya, sebelum aksara diturunkan, sebelum semesta dilipat dari ketiadaan, ada sebuah pertanyaan yang abadi. Pertanyaan yang tidak diajukan oleh lidah, melainkan oleh kesunyian itu sendiri, yang menggema di dalam bilik hati setiap manusia: Siapakah dirimu?

Pertanyaan ini tampak sederhana. Namun ia menyimpan jurang yang tak terkira dalamnya. Sebab jawaban atasnya bukanlah sekadar nama, pekerjaan, atau status sosial. Bukan sekadar “aku seorang guru”, “aku seorang petani”, atau “aku seorang pencari”. Jawaban yang sejati adalah jawaban yang menyelam jauh ke dasar samudra wujud, menyentuh inti hakikat diri, dan kembali ke permukaan membawa sebongkah mutiara kesadaran: bahwa “aku” ini, pada hakikatnya, adalah tiada.

Seorang arif—seorang yang telah dimabukkan oleh cinta Ilahi dan disadarkan kembali oleh tangan-Nya—pernah melantunkan syair yang begitu ringkas, namun meledakkan cakrawala makna. Syair itu adalah jawaban atas pertanyaan purba tadi, sekaligus tangga menuju pengenalan akan Diri-Nya.

Siapakah dirimu?

Aku adalah TIADA yang diadakan-Nya. Aku adalah ADA yang ditiadakan-Nya.
Itulah diriku yang tiada pada awalnya, dan itulah diriku yang ada pada akhirnya. Itulah diriku yang tiada kuasa pada kenyataannya, dan itulah diriku yang ada bersama kuasa-Nya.

Siapakah diri-Nya?

DIA adalah ADA, dan tidak akan pernah berubah. DIA adalah KUASA, Kuasa mencipta dan Kuasa di dalam mengendalikan semua apa yang dicipta. DIA adalah ADA, dan selalu ada bersama makhluk-makhluk-Nya. DIA-lah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, dan hanya kepada-Nya semua doa dilantunkan.

Dalam bait-bait yang tenang namun mengguncang ini, terhampar sebuah peta perjalanan ruhani yang paripurna. Dari tiada menuju ada, dari ada menuju fana’, dan dari fana’ menuju apa yang oleh para pencinta sejati disebut fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap, sirna dari sirna. Mari kita masuki untaian syair ini bukan dengan akal yang ingin menaklukkan, melainkan dengan hati yang ingin ditaklukkan.

Misteri “Tiada” dan “Ada”

Kalimat pertama sudah cukup untuk membungkam seluruh peradaban: “Aku adalah TIADA yang diadakan-Nya.” Sebuah pengakuan ontologis yang paling jujur. Sebab siapakah manusia sebelum ia diadakan? Al-Qur’an bertanya dengan retoris yang menusuk: “Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, ketika ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan: 1). Manusia, sebelum wujudnya diciptakan, adalah ‘adam—ketiadaan murni. Ia tidak memiliki nama, tidak memiliki rupa, tidak memiliki esensi. Ia bahkan bukan “sesuatu yang dapat disebut”. Ia adalah ketiadaan yang paling sunyi.

Para sufi, dengan ketajaman mata batinnya, memahami bahwa ‘adam ini bukanlah sekadar titik awal kronologis. Ia adalah hakikat permanen manusia. Syekh Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Sang Guru Terbesar, dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menulis bahwa segala sesuatu selain Allah adalah ‘adam yang pada dirinya sendiri tidak pernah memiliki wujud. Wujud hanyalah satu, yaitu Wujud Allah. Adapun makhluk, ia hanyalah tajalli—penampakan—dari Wujud itu. Seperti bayangan di cermin: ia tampak ada, tetapi pada dirinya ia tidak memiliki realitas apa pun. Geraknya bergantung pada yang empunya bayangan. Begitu pula manusia. “Ada”-nya manusia hanyalah pinjaman, ‘ariyah, dari Wujud Mutlak. Maka, ketika sang arif berkata “aku adalah TIADA yang diadakan-Nya,” ia sedang menyingkapkan hakikat paling dasar dari eksistensi: bahwa aku ini bukanlah apa-apa, dan keberadaanku semata-mata adalah anugerah dari Dia yang Maha Ada.

Namun, perhatikanlah kelanjutannya: “Aku adalah ADA yang ditiadakan-Nya.” Jika bait pertama adalah pengakuan tentang asal-usul, bait kedua adalah pengakuan tentang perjalanan kembali. Manusia yang telah “ada”—yang telah menerima pinjaman wujud—kerap kali lupa diri. Ia terpesona oleh bayangannya sendiri di cermin dan mengira bahwa ia memiliki wujud yang mandiri. Dari sinilah lahir ana’iyyah, keakuan, ego yang membangun tembok-tembok ilusi antara dirinya dan Tuhannya. Ego ini adalah hijab terbesar. Maka, diperlukan fana’: proses peniadaan “ada” yang palsu itu. Inilah makna “ditiadakan-Nya.” Bukan manusia yang meniadakan dirinya sendiri—sebab ia bahkan tidak memiliki daya untuk itu—melainkan Allah sendiri yang dengan rahmat-Nya menghancurkan ilusi keakuan itu.

Di sinilah letak paradoks yang agung: manusia diadakan dari tiada, namun untuk mencapai hakikatnya, ia harus ditiadakan kembali dari “ada”-nya yang semu. Ia harus mengalami kematian sebelum kematian. Mutu qabla an tamutu, matilah sebelum kamu mati, demikian sabda Nabi yang Agung. Dan kematian sukarela inilah yang disebut fana’.

Fana’: Mengembalikan Pinjaman kepada Pemiliknya

Dalam terminologi para sufi, fana’ adalah lenyapnya kesadaran akan selain Allah. Al-Qusyairi, dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah, mendefinisikannya dengan indah: “Fana’ adalah gugurnya segala sesuatu selain Allah dari pandangan hati, sehingga ia tidak lagi melihat selain al-Haqq.” Fana’ bukanlah ketiadaan eksistensial dalam arti nihilistik. Ia adalah transformasi kesaksian: dari menyaksikan diri dan dunia, menjadi hanya menyaksikan Dia.

Syair ini mengungkapkan proses itu dengan sangat ringkas: “aku adalah ADA yang ditiadakan-Nya.” “Ada” di sini adalah wujud pinjaman yang diklaim sebagai milik sendiri—termasuk sifat-sifat, perbuatan, dan seluruh eksistensi personal. Ketika Allah meniadakannya, yang terjadi adalah hamba tidak lagi melihat dirinya memiliki wujud, sifat, atau perbuatan. Wujudnya adalah Wujud-Nya, sifatnya adalah Sifat-Nya, perbuatannya adalah Af’al-Nya. Inilah fana’ dalam tiga tingkatannya: fana’ fi al-af’al, fana’ fi al-sifat, dan fana’ fi al-dzat.

Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, sang mursyid Naqsyabandi yang agung, dalam kitabnya Jami’ul Ushul fil Auliya’, mengupas tingkatan-tingkatan fana’ ini dengan sangat terang. Fana’ fi al-af’al adalah ketika seorang hamba menyaksikan bahwa tidak ada perbuatan sejati selain perbuatan Allah. Semua gerak-gerik yang ia lakukan, bahkan detak jantung dan kedipan matanya, adalah ciptaan Allah. Fana’ fi al-sifat adalah ketika ia menyadari bahwa sifat-sifat yang ia miliki—kasih sayang, keberanian, pengetahuan—hanyalah pinjaman dari sifat-sifat Allah. Sementara fana’ fi al-dzat adalah puncaknya: lenyapnya kesaksian akan wujud diri sendiri, sehingga yang tampak hanyalah Wujud Mutlak.

Ketika seorang hamba mencapai puncak fana’ ini, ia seperti sebutir debu yang jatuh ke dalam samudra. Debu itu tidak lagi memiliki eksistensi mandiri. Ia telah menjadi samudra, namun samudra tetap samudra. Di titik inilah sang hamba bisa berkata, dengan kejujuran total, “aku adalah ADA yang ditiadakan-Nya.” “Ada”-ku telah lenyap, dan yang tinggal hanyalah “Ada”-Nya.

Jejak yang Paling Halus: Fana’ ul-Fana’

Namun, para pencinta Tuhan yang paling dalam tidak berhenti sampai di sini. Mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan: bahwa kesadaran “aku telah fana’” masih merupakan jejak keakuan. Ia adalah residu paling halus dari ego, ular tua yang berganti kulit menjadi ular yang lebih licik: ego spiritual.

Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul membahas ini dengan amat tajam. Beliau menulis bahwa di antara para salik, ada yang terjebak dalam al-‘ujb al-khafi—kesombongan tersembunyi—karena merasa telah mencapai fana’. Mereka berkata dalam hatinya, “Alhamdulillah, aku telah mencapai fana’.” Dan di situlah letak hijabnya. Sebab selama masih ada “aku” yang merasa fana’, selama itu pula dualitas masih ada. Maka, diperlukan fana’ ul-fana’: peniadaan terhadap kefanaan itu sendiri. Mahw al-mahw, penghapusan terhadap penghapusan. Lenyap dari lenyap.

Dalam konteks syair kita, ini berarti bahwa pernyataan “aku adalah ADA yang ditiadakan-Nya” pun pada akhirnya harus ditiadakan. Sebab siapa yang berkata “aku ditiadakan”? Bukankah itu masih “aku”? Di puncak fana’ ul-fana’, tidak ada lagi subjek yang berbicara. Tidak ada lagi “aku” yang mengaku tiada, tidak ada lagi “aku” yang mengaku fana’. Yang ada hanyalah DIA. Diam tanpa kata. Hadir tanpa batas.

Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam ensiklopedia agungnya Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam banyak pengalaman para wali yang mencapai stasiun ini. Salah satunya adalah Abu Yazid al-Bistami, yang dalam salah satu kesaksiannya berkata, “Aku bermimpi melihat Tuhanku. Aku bertanya, ‘Bagaimana jalan menuju-Mu?’ Dia menjawab, ‘Tinggalkan dirimu, maka engkau sampai.’ Lalu aku berkata, ‘Aku telah meninggalkan diriku.’ Dia menjawab, ‘Tinggalkan pula ‘meninggalkan’-mu, karena itu masih jejakmu.’” (Abu Nu’aim, 2002: jilid 10, hlm. 44).

Betapa indah dialog ini. Meninggalkan diri adalah fana’. Tetapi kesadaran telah meninggalkan diri adalah residu yang harus ditinggalkan lagi. Itulah fana’ ul-fana’. Di titik ini, tiada lagi “aku” yang tiada, tiada lagi “aku” yang fana’. Yang tinggal hanyalah al-Baqi, Yang Maha Tetap. Ibn ‘Arabi menulis dalam Futuhat: “Fana’ adalah ketiadaanmu dalam dirimu; dan fana’ dari fana’ adalah ketiadaan pengetahuanmu tentang ketiadaanmu. Inilah baqa’ sejati, karena engkau tetap dalam Wujud al-Haqq tanpa dirimu.”

Tiada Kuasa, Ada Bersama Kuasa-Nya

Syair ini melanjutkan dengan bait yang semakin memperjelas kedudukan manusia: “Itulah diriku yang tiada kuasa pada kenyataannya, dan itulah diriku yang ada bersama kuasa-Nya.” Ini adalah pengakuan ‘ajz—kelemahan total. Manusia tidak hanya tiada dalam wujud, tetapi juga tiada dalam kuasa. Segala yang ia sangka sebagai “kekuatan” dan “kemampuan” hanyalah ilusi. Al-Qur’an menegaskan: “Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (QS. Al-Shaffat: 96). Perbuatan manusia adalah ciptaan Allah. Maka, di manakah “kuasa” manusia?

Namun, pengakuan “tiada kuasa” bukanlah akhir. Ia justru menjadi pintu menuju baqa’. Setelah kuasa dirinya ditiadakan, hamba justru “ada” bersama Kuasa-Nya. Ia menjadi tempat tajalli bagi sifat al-Qadir, Yang Maha Kuasa. Inilah stasiun di mana sang wali bertindak bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dengan Kekuatan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi: “Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memukul, dan kakinya yang dengannya ia berjalan.” Di sini, hamba telah menjadi cermin sempurna bagi Kuasa Ilahi. Ia tidak lagi memiliki kehendak sendiri, namun justru di situlah ia menjadi paling berkehendak—karena kehendaknya adalah Kehendak-Nya.

Inilah maqam al-tamkin yang dibahas Al-Kamasykhanawi: kemapanan spiritual di mana hamba teguh bersama al-Haqq. Ia bukan lagi gelombang yang diombang-ambingkan, melainkan telah menjadi samudra itu sendiri—bukan dalam arti ia berubah menjadi Tuhan, melainkan dalam arti ia telah lenyap dan yang tinggal hanyalah Samudra. Geraknya adalah Gerak-Nya. Diamnya adalah Diam-Nya. “Tiada kuasa” melahirkan “ada bersama kuasa-Nya”—sebuah paradoks yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah mereguk cawan fana’ hingga tetes terakhir.

DIA: Satu-satunya ADA yang Tak Berubah

Setelah menjawab “siapakah dirimu”, syair ini beralih kepada pertanyaan yang lebih besar: Siapakah diri-Nya? Dan jawabannya adalah rangkaian tauhid yang murni.

“DIA adalah ADA, dan tidak akan pernah berubah.” Ini adalah fondasi segala fondasi. Hanya Allah yang benar-benar Ada. Keberadaan-Nya adalah Wajib al-Wujud, Niscaya Ada, tidak bergantung pada apa pun, tidak berawal dan tidak berakhir. Berbeda dengan “ada”-nya makhluk yang bersifat mumkin al-wujud—bisa ada, bisa tiada, selalu dalam genggaman-Nya—Keberadaan Allah adalah mutlak, abadi, dan tak tergoyahkan. Ia adalah al-Baqi, Yang Maha Tetap, sementara segala sesuatu selain-Nya adalah fana’, binasa. “Kullu syai’in halikun illa wajhahu”—segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya (QS. Al-Qashash: 88).

“DIA adalah KUASA, Kuasa mencipta dan Kuasa di dalam mengendalikan semua apa yang dicipta.” Ini adalah tauhid af’al, pengesaan bahwa hanya Allah yang mencipta, mengatur, dan mengendalikan. Di dalam Jami’ul Ushul, Al-Kamasykhanawi mengajarkan bahwa penyaksian terhadap keesaan perbuatan Allah adalah pintu pertama menuju ma’rifah. Orang yang masih melihat ada “pelaku” selain Allah, baik itu dirinya sendiri maupun makhluk lain, ia masih terhijab. Tetapi ketika mata batinnya terbuka dan ia menyaksikan bahwa semua gerakan di alam semesta ini adalah Gerakan-Nya, maka ia telah memasuki taman tauhid yang sesungguhnya.

“DIA adalah ADA, dan selalu ada bersama makhluk-makhluk-Nya.” Ini adalah ma’iyyah, kebersamaan Allah. Allah tidak hanya transenden, jauh di atas singgasana-Nya, tetapi juga imanen, dekat bersama hamba-hamba-Nya. “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al-Hadid: 4). Bagi para pencinta, ma’iyyah ini bukan sekadar doktrin teologis. Ia adalah realitas yang dirasakan dalam setiap detak jantung, dalam setiap tarikan napas. Allah hadir dalam sunyi, hadir dalam ramai, hadir dalam tangis dan tawa. Dan kehadiran-Nya adalah sumber dari segala ketenangan.

“DIA-lah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, dan hanya kepada-Nya semua doa dilantunkan.” Inilah puncak ubudiyyah, penghambaan total. Setelah mengenali diri sebagai tiada dan Tuhan sebagai Ada, tidak ada yang tersisa kecuali penyembahan. La ilaha illa Allah—tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Semua doa, semua permohonan, semua rintihan, hanya ditujukan kepada-Nya. Karena dari mana lagi manusia meminta, jika ia telah menyadari bahwa dirinya adalah faqr mutlak dan hanya Allah yang Ghani mutlak?

Fana’ ul-Fana’ dalam Syair: Sebuah Pembacaan Lebih Jauh

Jika kita renungkan lebih dalam, seluruh syair ini sejatinya adalah ekspresi dari sebuah perjalanan yang bergerak dari satu stasiun ke stasiun berikutnya. Ia dimulai dengan pengakuan ‘adam (“aku adalah tiada”), berlanjut ke pengakuan ijad (“yang diadakan-Nya”), lalu ke pengakuan fana’ (“aku adalah ADA yang ditiadakan-Nya”), dan akhirnya—meskipun tak terucapkan—ke fana’ ul-fana’, di mana bahkan pengakuan-pengakuan itu sendiri lenyap.

Mengapa demikian? Sebab di puncak fana’ ul-fana’, tidak ada lagi “aku” yang bisa berkata “aku ini” atau “aku itu”. Subjek telah sirna. Yang ada hanyalah DIA. Maka, bagian kedua syair—tentang Siapakah diri-Nya—bukanlah sekadar informasi tambahan. Ia adalah buah dari perjalanan itu sendiri. Ketika “aku” telah lenyap, yang tampak hanyalah DIA. Syair ini, dengan demikian, adalah peta dan sekaligus saksi. Ia adalah peta bagi para musafir yang ingin menempuh jalan, dan ia adalah saksi dari seorang arif yang telah kembali dari puncak untuk memberi kabar kepada kita.

Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim merekam kisah Abu al-Hasan al-Nuri, yang ketika ditanya tentang dirinya, ia menjawab: “Aku adalah buku yang telah dihapus tintanya. Tidak ada lagi huruf, tidak ada lagi kata. Yang ada hanyalah kertas putih yang menanti tulisan Sang Penulis.” Ini adalah fana’ ul-fana’: bahkan “tulisan” tentang kefanaan telah dihapus. Yang tinggal hanyalah al-mahw—penghapusan total—dan kesiapan mutlak untuk menerima apa pun yang dikehendaki Allah.

Refleksi: Menemukan Diri dalam Ketiadaan

Pembaca yang budiman, syair yang telah kita renungkan ini bukanlah sekadar bahan diskusi akademik. Ia adalah cermin. Ia memantulkan kembali kepada kita, siapakah kita sebenarnya. Di tengah dunia yang terus-menerus menyuruh kita untuk “menjadi seseorang”, untuk “berprestasi”, untuk “memperkuat diri”, syair ini membisikkan pesan yang bertolak belakang: jadilah bukan siapa-siapa. Sebab hanya dalam ketiadaan diri, Wujud Sejati dapat menampakkan Diri-Nya. Hanya dalam kelemahan, Kuasa-Nya menjadi sempurna. Hanya dalam faqr, Kekayaan-Nya melimpah.

Perjalanan menuju fana’ ul-fana’ adalah perjalanan tanpa akhir. Ia adalah samudra yang semakin dalam semakin tak berdasar. Tetapi bagi para pencinta, setiap tetes dari samudra itu sudah cukup untuk menghancurkan ilusi dan menghidupkan rindu. Maka, marilah kita bertanya pada diri sendiri, dalam kesunyian malam yang paling hening: Siapakah dirimu? Dan semoga, dengan rahmat-Nya, suatu hari kita dapat menjawab dengan diam—diam yang di dalamnya hanya ada DIA.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *