Kerendahan Hati Seorang Presiden dan Kedangkalan Cara Berpikir Kolonial

CATATAN SEORANG SPION - Dodi Ilham

Monwnews.com, Beberapa hari terakhir, ruang media sosial dipenuhi potongan rekaman percakapan informal antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela sebuah forum internasional mengenai perdamaian Gaza di Mesir.

https://www.instagram.com/p/DS1J4jRErJk/?img_index=1
https://www.instagram.com/p/DS1J4jRErJk/?img_index=1

Dalam percakapan tersebut, Presiden Prabowo terdengar menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan Eric Trump, salah satu putra Presiden Donald Trump yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Eksekutif The Trump Organization.

Potongan rekaman itu kemudian dipelintir oleh sebagian pihak menjadi bahan olok-olok, bahkan dituduhkan seolah-olah Presiden Republik Indonesia sedang “mengemis rupiah” kepada Amerika Serikat.

Narasi semacam ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan suatu penyakit intelektual lama yang masih menjangkiti sebagian cara berpikir bangsa terjajah: mentalitas kolonial yang tidak mampu memahami bagaimana kekuasaan, diplomasi, dan ekonomi global bekerja.

Padahal dalam realitas geopolitik modern, interaksi antara kepala negara dan tokoh-tokoh dunia usaha global adalah sesuatu yang sangat lazim. Hubungan internasional hari ini tidak hanya ditentukan oleh negara, tetapi juga oleh kekuatan korporasi, jaringan keuangan, dan arsitektur ekonomi global.

Seorang presiden yang memahami dinamika tersebut tentu tidak akan menutup pintu komunikasi dengan siapa pun yang memiliki pengaruh dalam ekosistem ekonomi dunia. Justru di situlah letak kepemimpinan strategis.

Namun untuk memahami hal ini, kita perlu kembali kepada metode berpikir rasional yang pernah diwariskan oleh Tan Malaka melalui gagasan besarnya dalam Madilog—Materialisme, Dialektika, dan Logika.

MADILOG mengajarkan bahwa realitas sosial dan politik harus dibaca berdasarkan kondisi material yang nyata, bukan sekadar emosi atau prasangka.

Jika dibaca dengan pendekatan materialisme, maka hubungan antara pemimpin negara dan aktor ekonomi global adalah bagian dari struktur kekuasaan ekonomi dunia.

Jika dibaca dengan pendekatan dialektika, maka diplomasi adalah ruang negosiasi kepentingan antar kekuatan.

Dan jika dibaca dengan logika, maka membuka komunikasi dengan siapa pun yang memiliki pengaruh ekonomi global adalah langkah strategis untuk memperkuat posisi nasional.

Dengan kata lain: diplomasi bukan soal gengsi, tetapi soal kepentingan bangsa.

Ironisnya, sebagian orang justru membaca situasi ini dengan logika yang sangat dangkal: seolah-olah setiap percakapan dengan tokoh bisnis dunia adalah bentuk ketundukan.

Padahal justru bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berbicara dengan siapa pun tanpa kehilangan martabatnya.

Di sinilah kita juga perlu memahami karakter kepemimpinan Nusantara.

Tradisi kepemimpinan Nusantara sejak lama tidak dibangun atas dasar kesombongan simbolik, tetapi atas dasar kebijaksanaan relasional.

Seorang pemimpin Nusantara mampu bersikap tegas di medan konflik, tetapi tetap rendah hati dalam pergaulan. Ia mampu memegang prinsip tanpa kehilangan keluwesan. Ia mampu bernegosiasi tanpa kehilangan martabat.

Menariknya, jika kita membaca fenomena kepemimpinan ini dari perspektif Human Design, terdapat satu arketipe energi yang sangat relevan untuk menggambarkan karakter tersebut, yaitu Channel 37–40, yang sering disebut sebagai Channel of Community atau The Bargain.

Channel ini menghubungkan Cakra Solar Plexus (emosi) dengan Cakra Jantung/Ego (kemauan dan komitmen).

Ketika kedua pusat energi ini aktif dan saling terhubung—terutama dengan aktivasi merah dan hitam yang melambangkan dimensi sadar dan bawah sadar—maka karakter yang muncul biasanya memiliki beberapa ciri mendasar.

Pertama, loyalitas terhadap komitmen. Individu dengan energi 37–40 cenderung sangat menjaga kesepakatan. Bagi mereka, janji bukan sekadar kata-kata, tetapi ikatan moral yang harus dihormati.

Kedua, kesadaran komunitas yang kuat. Energi ini secara alami melihat kehidupan sosial sebagai sebuah keluarga besar.

Ketiga, kerja keras untuk orang yang dianggap bagian dari lingkarannya.

Keempat, sensitivitas terhadap ketidakadilan dalam perjanjian.

Dalam konteks kepemimpinan, arketipe seperti ini melahirkan sosok yang mampu memegang dua kualitas sekaligus: ketegasan dalam menjaga kehormatan, dan kerendahan hati dalam membangun hubungan.

Ia tidak merasa kecil ketika berbicara dengan siapa pun, tetapi juga tidak merasa perlu meninggikan diri secara simbolik.

Di tengah dunia yang semakin kompleks secara geopolitik, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu membaca perubahan global dengan kepala dingin dan hati yang luas.

Diplomasi bukanlah panggung sandiwara untuk memuaskan ego publik. Diplomasi adalah seni memperjuangkan kepentingan bangsa dalam jaringan kekuasaan dunia yang sangat rumit.

Sejarah selalu membuktikan satu hal sederhana: para pemimpin yang bekerja dalam diam sering kali menghasilkan perubahan besar, sementara para penonton yang gemar mencemooh biasanya hanya meninggalkan jejak kebisingan.

Kerendahan hati seorang pemimpin tidak pernah menurunkan martabat sebuah bangsa.

Sebaliknya, dari kerendahan hati itulah lahir kekuatan moral, kepercayaan internasional, dan peluang-peluang baru bagi masa depan negara.

Dan bagi mereka yang masih memilih untuk menertawakan tanpa memahami, mungkin sudah saatnya kembali belajar berpikir dengan kepala yang jernih—sebagaimana diajarkan oleh Tan Malaka melalui MADILOG: membaca realitas dengan Materialisme, Dialektika, dan Logika.

Salam Kesadaran.
SPION
Satria Penggerak Indonesia Online Nusantara
Dodi Ilham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *