Catatan Seorang Spion: Algoritma dan Jimat Tua

Oleh: Dodi Ilham

Monwnews.com, Konon di sebuah negeri yang semakin modern, segala sesuatu telah diatur dengan rapi.

Ada SOP.
Ada KPI.
Ada dashboard.
Ada tracking.
Ada monitoring.
Ada evaluasi.

Segala sesuatu memiliki fungsi, jalur, dan konsekuensinya masing-masing.

Kendaraan memiliki peruntukan.

Aplikasi memiliki algoritma.

Organisasi memiliki aturan.

Dan semua itu memang diperlukan agar roda kehidupan tidak berubah menjadi pasar malam yang kehilangan arah.

Namun ada satu hal yang sejak dahulu sulit dimasukkan ke dalam spreadsheet.

Namanya: manusia.

Manusia adalah makhluk yang aneh.

Ia bisa mematuhi aturan dengan disiplin, tetapi tetap menyimpan kerinduan.

Ia bisa mengejar target dengan penuh tanggung jawab, tetapi tetap dihantui kekhawatiran.

Ia bisa memahami logika, tetapi tidak selalu sanggup mengabaikan suara hatinya.

Di sebuah garasi, misalnya.

Terparkir sebuah kendaraan yang nilainya ratusan juta rupiah.

Baterainya penuh.

Ban-ban terawat.

Sensor dan kameranya bekerja sempurna.

Sistem operasionalnya nyaris tanpa cela.

Hanya ada satu hal yang tidak diketahui kendaraan itu.

Ia tidak tahu siapa yang melahirkan pengemudinya.

Ia tidak tahu siapa yang begadang ketika pengemudinya demam di masa kecil.

Ia tidak tahu siapa yang lebih sering berdoa daripada meminta.

Dan memang bukan tugas kendaraan untuk memahami itu.

Bukan pula tugas algoritma.

Algoritma hanya mengenal koordinat.

Tidak mengenal air mata.

Algoritma mengenal titik keberangkatan dan titik tujuan.

Tidak mengenal siapa yang menunggu di ujung perjalanan.

Maka kadang lahirlah pemandangan yang menarik.

Sebuah kendaraan boleh mengantar banyak orang ke berbagai tempat.

Tetapi ketika tujuan perjalanan adalah seseorang yang pernah menggendong pengemudinya sebelum ia mampu berjalan, dunia mendadak menjadi lebih rumit.

Formulir dibuka.

Aturan dibaca.

Grup WhatsApp bergerak.

Jalur koordinasi dipanaskan.

Semua bekerja sebagaimana mestinya.

Dan memang begitulah organisasi bertahan.

Tidak ada yang salah dengan aturan.

Tidak ada yang salah dengan prosedur.

Tidak ada yang salah dengan pengawasan.

Semuanya penting.

Semuanya dibutuhkan.

Tetapi mungkin sesekali kita perlu mengingat sesuatu yang lebih tua dari seluruh regulasi yang pernah dibuat manusia.

Bahwa sebelum ada kontrak, ada rahim.

Sebelum ada target, ada pelukan.

Sebelum ada performa, ada pengorbanan.

Dan sebelum seseorang menjadi aset produktif, ia pernah menjadi bayi yang hidup dari cinta orang tuanya.

Mungkin itulah sebabnya sebagian orang masih percaya pada jimat.

Bukan jimat yang dibungkus kain.

Bukan jimat yang disimpan di laci.

Melainkan seorang ibu tua yang diam-diam masih terbangun pada sepertiga malam terakhir, menyebut nama anaknya dalam doa.

Jimat yang tidak pernah meminta apa-apa.

Selain melihat anaknya pulang dengan selamat.

Dan jika suatu hari dunia menjadi terlalu sibuk untuk memahami hal-hal semacam itu, semoga masih ada ruang kecil di sudut hati kita untuk mengingat:

Bahwa tidak semua perjalanan dihitung oleh odometer.

Ada perjalanan yang hanya bisa diukur oleh bakti.

Dormitory, Menjelang Pergantian Hari.

Ketika sebagian orang menghitung kilometer,
sebagian lainnya sedang menghitung umur orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *